Bila itu terjadi, pun bukan kali pertama ada pesawat yang memasuki kumulonimbus. Seorang pilot Garuda Indonesia, Abdul Rozaq, berbagi kisah saat pesawat yang ia piloti terjebak di tengah awan badai dan putus komunikasi dengan menara pemantau lalu-lintas udara atau air traffic controller (ATC) bandara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saat itu di kanan pesawat ada gunung. Jadi mau-tidak mau saya harus masuk awan kumulonimbus. Peristiwa berlangsung cepat,” ujar Rozaq mengenang pengalaman pahitnya di Kantor Otoritas Bandara Wilayah 1 Soekarno-Hatta, Senin malam (29/12).
“Saya mengendarai pesawat secara manual karena komunikasi terputus. Pesawat lalu turun hingga ketinggian 7 ribu kaki hanya dalam waktu lima menit. Pada ketinggian itu, saya bisa melihat ada sungai,” kata pria 58 tahun itu. Ia belakangan tahu sungai itu adalah Bengawan Solo.
GA 421 pun mendarat darurat di Bengawan Solo, crash. Rozaq beruntung karena lolos dari maut. Namun satu krunya harus meregang nyawa meski semua penumpang selamat. Pengalaman buruk itu membuat Rozaq memberi sedikit pesan kepada rekannya sesama pilot jika suatu saat menghadapi situasi yang sama dengan dia.
“Saat masuk kumulonimbus, pilot harus mencari gumpalan awan paling tipis agar lebih mudah dilewati dan turbulensi yang terjadi tidak begitu besar,” ujar pilot dengan 26 ribu jam terbang itu.
Kumulonimbus memiliki karakteristik beragam. Awan yang dihadapi Rozaq ketika itu, menurutnya, sangat besar dan tebal. Untuk menghindari kumulonimbus, ujar Rozaq, paling aman dengan menggeser pesawat ke kanan atau ke kiri, bukan dengan menaikkan ketinggian pesawat, sebab kumulonimbus biasanya menjulang tinggi.