Gumpalan awan pekat yang diduga awan kumulonimbus, kata Suryo, tampak dalam titik radar di sekitar radius 50-100 km pesawat.
"Ini awan CB (kumulonimbus)," kata Suryo sambil memperlihatkan foto hasil pencitraan yang menunjukkan gumpalan awan merah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain awan kumulonimbus, angin besar juga menghadang jalur pengevakuasian. Suryo mengaku besarnya kecepatan angin membanting-banting pesawatnya.
Tujuan evakuasi yang dipimpin Suryo adalah KRI Bung Tomo. Namun setelah mendarat di Lanud Iskandar, tim Super Puma mendapat kabar bahwa jenazah telah dialihkan ke kapal yang menjadi lokasi pusat evakuasi di lautan, KRI Banda Aceh.
Mendapat kabar Helikopter Super Puma gagal menjalankan misi, pihak KRI Banda Aceh lantas menerbangkan dua unit Heli Bell miliknya untuk mengantarkan langsung delapan jenazah ke Lanud Iskandar.
Mendarat sekitar pukul 10.45 WIB, delapan kantung jenazah langsung diangkut menggunakan delapan unit ambulans menuju RSUD Sultan Imanudin.
Menurut Direktur Eksekutif DVI Mabes Direktur Eksekutif DVI Kombes Anton Castilani, proses evakuasi jenazah menuju Surabaya dipercepat agar kondisinya tidak bertambah buruk.
"Jadi tidak ada treatment apapun di sini hanya dimasukkan ke dalam peti jenazah," ujarnya.
Total jasad yang berhasil dievakuasi ke Pangkalan Bun saat ini berjumlah 12 jenazah. Empat jenazah sebelumnya dievakuasi oleh Sea Hawk dari kapal USS Sampsons, Jumat petang (2/1).
Kini 12 jenazah telah dikemas dalam peti berwarna putih dengan tanda bernomor 019-030.
Sebanyak 12 ambulans datang beriringan dengan sirine menuju Lanud Iskandar sekitar pukul 12.30 WIB. Upacara penghormatan militer digelar untuk mengantar jenazah ke dalam lambung pesawat Hercules C130 yang siap menerbangkannya ke Surabaya. (den)