Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan hingga saat ini TNI tidak akan mengendurkan proses pencarian dan evakuasi. Bahkan, regu penyelam dari laporan yang diterimanya telah mulai menyelam, dengan resiko yang bisa mengancam keselamatan para penyelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Pangkalan Bun sebelumnya dilaporkan bahwa memasuki hari kesembilan, pencarian tim evakuasi gabungan mulai menemukan serpihan besar dan mengarah pada dugaan badan pesawat AirAsia QZ8501. Pencarian pun difokuskan untuk menyusur bawah laut dengan menggunakan alat deteksi sonar dan robot laut, alias remotely operated vessel (ROV).
Menurut Kapten Laut (p) DanDen SatKopaska Edy Titayasa, tujuan utama para penyelam adalah terjun ke dasar laut untuk mengevakuasi jenazah dan mengambil black box. "Itu ada prosedurnya," ujar Edy saat ditemui CNN Indonesia di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Ahad (4/1).
Komandan Tim Pasukan Katak di Teluk Kumai itu mengatakan, penyelaman dasar laut dilakukan jika tim kapal telah menentukan titik pasti dari lokasi badan pesawat. Jika koordinat telah ditentukan, maka Pasukan Katak menjadi tim penyelam pertama yang diterjunkan untuk melakukan obeservasi di bawah laut. "Jadi tidak asal nyemplung ramai-ramai. Itu konyol namanya," ujar Edy.
Dengan kedalaman sekitar 30 meter, kata Edy, penyelam tidak dianjurkan melakukan teknik repetitive dive atau menyelam berulang. Tekanan laut sangat besar sehingga mereka hanya boleh berada di dasar laut selama sekitar 15-20 menit. "Jika terlalu lama di bawah tekanan laut yang besar, maka akan terjadi dekompresi ketika naik ke permukaan. Itu bisa berakibat pada kelumpuhan," ujar Edy.
Dengan waktu yang terbatas, arus deras, dan ombak liar, Edy mengatakan tim penyelam bakal berlomba dengan waktu. Kendala lainnya, kondisi dasar laut diprediksi berlumpur. Itu disebabkan oleh efek sedimentasi arus utara yang naik. "Jadi kemungkinan air bakal butek, alias zero visibility," ujarnya. Oleh karena itu penyelam tidak bisa melakukan teknik menyelam berulang.
Kopaska saat ini menerjunkan sebanyak 41 personel. Selain itu, para penyelam lain yang diterjunkan dalam operasi penyelaman ada 14 personel dari Denjaka, tujuh personel dari pasukan elite Intai Amfibi (Taifib), 22 penyelam dari TNI AL, serta tambahan 22 personel penyelam dari Rusia. (obs/obs)