Namun di waktu yang semakin dekat tersebut masih ada dua partai politik yang masih mengalami masalah internal yang hampir sama, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golongan Karya (Golkar). Dualisme yang terjadi di tubuh keduanya mengancam keikutsertaan mereka di Pilkada serentak tersebut.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan dua partai politik tersebut harus melalui jalan yang berbeda agar bisa bersatu. Untuk PPP, Yasonna mengatakan sengketa keduanya harus segera selesai di ranah pengadilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dengar dari mereka kubu manapun yang kepengurusan dikabulkan, mereka (kubu yang kalah) akan tunduk," kata mantan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.
"Kita dengar nanti jika yang di sini dimenangkan mau tidak yang di sana menerima? Jika mau syukur alhamdulilah," katanya.
Yasonna mengatakan jika semua setuju artinya tinggal satu aspek lagi yang perlu kedua kubu samakan keinginannya.
"Hanya tinggal mereka menyesuaikan soal ketua umum saja," ujarnya.
Seperti diketahui sebelumnya kubu Munas Bali mengangkat Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2014-2019 sedangkan Munas Jakarta menetapkan Agung Laksono sebagai ketumnya. Kedua kubu saling klaim dirinya yang sah dan sama-sama mendaftarkan diri ke Kemenkumham.
Namun Yasonna saat itu menolak mengesahkan salah satu di antara keduanya dan meminta mereka menyelesaikan masalah internalnya terlebih dahulu. Yasonna tidak mau kejadian PPP terulang saat dirinya mengesahkan PPP versi Romahurmuziy dan langsung digugat oleh PPP versi Djan Faridz. (utd)