"Misalnya ada nomenklatur pembinaan guru, biayanya Rp 200 juta. Staff dipaksa beli sesuatu untuk menghabiskan uang itu. Karena si perencana ini budget oriented maka bisa minta tambahin konsumsi dan sebagainya biar pas Rp 200 juta," kata Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah saat ditemui CNN Indonesia di kantornya, Selasa (16/2).
Dengan sistem e-budgeting, seluruh anggaran akan dirinci hingga detail. Termasuk untuk urusan konsumsi sekalipun, Saefullah mengatakan ada standar yang tidak dapat dirubah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Walikota Jakarta Pusat itupun menganggap wajar bila sekarang proses APBD terus dipersoalkan lantaran DPRD beserta alat kelengkapan dewan baru terbentuk menjelang akhir tahun. Maka, ada hal yang terlewatkan oleh para anggota dewan.
Karena sistem e-budgeting baru diterapkan secara penuh tahun ini dan berbenturan dengan pergantian dewan maka kesalahpahaman dinilai sangat mungkin terjadi. Lebih lanjut, Saefullah memaparkan untuk 2016, seluruh proses pembahasan APBD akan melalui sistem e-budgeting. Para anggota dewanpun akan diajak membahas anggaran sejak awal.
"Nanti saya suratin lurah untuk mendata ada anggota dewan mana saja di kelurahan. Ajak ketemu (di musrenbang). Ada aspirasi apa aja di masyarakat, nanti dimasukkan ke dalam program. SKPD nanti yang bikin rincian kegiatannya," ucapnya. (utd)