Pada 2012, Daeng Koro kembali ke Indonesia dari Mindanao. Sebagaimana diceritakan oleh mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai dalam bukunya, " Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia" (2014), begitu datang ke Indonesia, Daeng Koro, bersama teman-teman Makassarnya langung ke Poso untuk bergabung dengan Santoso.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemicu Kemarahan
Yang ditangkap di sana adalah kelompok yang diorganisir oleh Badri. Badri ditangkap saat berjalan di dekat rumahnya sekitar subuh. Di rumah Badri, polisi menemukan 11 detonator; pipa yang digunakan sebagai casing bom; bahan-bahan kimia seperti urea, belerang, dan campuran lainnya; serta dokumen-dokumen berupa buku-buku jihad.
Saat penangkapan itu juga, Farhan Mujahid, anak tiri Abu Umar yang sudah dianggap keponakan sendiri oleh Daeng Koro mati ditembak polisi. Selain itu, salah satu orang kepercayaan Daeng Koro, yaitu Sutarno, alias Wahid yang merupakan alumni Khasmir ikut ditangkap di Ambon. Kemarahan ini yang memicu aksi balas dendam berikutnya. (Baca juga: Segudang Jejak Teror Daeng Koro di Mata Polisi)
Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti saat dihubungi CNN Indonesia, Minggu (5/4) menegaskan bahwa sebenarnya, Daeng Koro lebih senior dan lebih berbahaya dari kelompok Santoso. Daeng Koro inilah yang banyak terlibat dalam kerusuhan Poso pada tahun 2000 lalu, bukannya Santoso.
Baca juga Fokus: Akhir Perlawanan Daeng Koro. (hel)