Firman mengatakan, pembentukan polisi parlemen dipandang perlu karena semakin majunya teknik penyusupan yang ada. "Kan bisa saja AC (penyejuk ruangan) diberi racun, kemudian dihirup bisa mati,” kata Firman saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (14/4). “Makanya pengamanan itu perlu," lanjut Firman.
Politikus Partai Golkar ini meneruskan, pengamanan kompleks parlemen harus dimaksimal agar selalu siap bila menghadapi berbagai situasi. “Jangan sampai orang bakar-bakaran dulu terus polisi baru datang," tutur Firman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yandri menginginkan rasa aman selalu rasakan oleh para wakil rakyat yang bertugas di DPR. “Memang dibutuhkan untuk memberikan rasa aman di kawasan parlemen,” ujarnya.
“Seperti untuk membeli senjata api pendek dan panjang berjumlah 350 pucuk akan menghabiskan Rp 4 miliar,” kata Uchok kepada CNN Indonesia, Selasa (14/4).
Contoh lainnya, ujar Uchok, pengadaan peralatan kantor seperti meja kursi, filling cabinet, sofa, AC split, komputer, printer, LCD protector, handy talky, dan pesawat telepon bisa menghabiskan anggaran Rp 1,8 miliar. Alokasi anggaran ini belum termasuk untuk membeli tameng Dallas, kendaraan water canon, dan kawat barrier.
“Alokasi anggaran untuk polisi parlemen ini sangat mahal dan mubazir karena DPR sudah mengeluarkan dana untuk tenaga pengamanan atau pamdal setiap tahun sebesar Rp 18 miliar,”
ungkap bekas Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) ini. (obs/obs)