Para pelaku adalah Freddy Budiman (38), Yanto (50), Aries (36), Latif (34), Gimo (46), Asun (42), Henny (37), Riski (22), Hadi (38), Kimung (31), Andre (30) dan Asiong (50).
Walau sudah mengamankan belasan pelaku, Bareskrim masih mencari seorang warga Belanda, Laosan alias Boncel, yang kini masih buron dan diketahui keberadaannya tak ada di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, penyidik kesulitan mencari Boncel karena di Belanda Undang-Undang tentang narkotika berbeda dengan yang ada di Indonesia. "Di Belanda memang penggunaan narkoba ada yang dilegalkan di satu area terbatas. Sehingga untuk menangkap yang bersangkutan agak sulit, kecuali dia keluar dari Belanda."
"Malah mungkin nanti presiden sendiri yang akan turun tangan menangani ini," ujar Budi.
Bareskrim hari ini merilis pengungkapan jaringan narkotik Freddy Budiman di sebuah pabrik ekstasi di Cengkareng, Jakarta. Barang bukti yang disita di antaranya 50 ribu butir ekstasi diduga dari Belanda, 800 gram shabu diduga dari Pakistan, 122 lembar narkotika berbentuk perangko (CC4) yang diduga dari Belgia, serta 20 handphone.
Kemudian satu mesin cetak ekstasi, satu tabung reaksi, 25 kilogram bahan baku ekstasi, 10 kilogram bahan pelarut, masing-masing satu timbangan digital, manual, alat pemanas, pendingin, alumunium foil dan penyaring. (pit/pit)