Keluarga Korban Tragedi Mei 98 Kecewa dengan Jokowi

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 09:13 WIB
Ruminah, ibu dari seorang perempuan yang tewas di Mal Klender pada kerusuhan Mei 1998, meminta pemerintah menuntaskan proses hukum kasus Mei '98. Maria Sanu (67), salah satu keluarga korban Tragedi Mei 1998, ditemui di Mal Klender, Jakarta Timur, pada Selasa (12/5). (CNN Indonesia/ Yohannie Linggasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ruminah, salah satu keluarga korban Tragedi Mei 1998, menyatakan kekecewaannya akan pasifnya pemerintah dalam menyelesaikan kasus pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu. Lebih jauh lagi, Ruminah meminta agar Presiden Joko Widodo kembali membuka kasus tersebut.

"Presiden sudah ganti berkali-kali. Masa belum bisa menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM? Kebangetan. Kami tetap minta kasus ini diselesaikan," kata Ruminah. Anak perempuan Ruminah merupakan korban saat terjadi kebakaran Mal Klender 17 tahun silam.
Meski sudah 17 tahun tanpa ujung, aktivis dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Rini, korban selama ini tidak tinggal diam. "Korban selalu berkumpul dan selalu mengingat kasus pelanggaran HAM yang belum selesai itu. Mereka masih berjuang mencari keadilan. Hampir semua lembaga negara sudah didatangi," kata Rini.

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin berpendapat pemerintah masih harus melakukan penyelidikan dan pemulihan nama baik korban dan keluarga korban. Dengan begitu, diharapkan korban dan keluarga korban dapat lebih terobati setelah mengalami luka mendalam bertahun-tahun lamanya.


"Saya pikir perlu juga dibangun museum agar generasi muda bisa mengetahui Tragedi Mei 1998. Sekarang ini sudah banyak anak muda yang tidak tahu kejadian ini," kata Mariana.


Berdasarkan laporan "Sujud di Hadapan Korban Tragedi Jakarta Mei 1998" yang dikeluarkan oleh Tim Relawan untuk Kemanusiaan, setidaknya ada 1.217 jiwa yang meninggal, 91 orang luka, serta 31 orang hilang akibat Tragedi Mei yang terjadi pada 13 hingga 15 Mei 1998.

Selain terjadi pembunuhan, juga terjadi kekerasan seksual pada masa itu. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 telah memverifikasi adanya 85 perempuan korban kekerasan seksual yang berlangsung dalam rangkaian kerusuhan Tragedi Mei 1998 dengan rincian 52 korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 korban penyerangan dan penganiayaan seksual, dan sembilan korban pelecehan seksual.


TGPF mengaskan bahwa kekerasan seksual telah terjadi selama kerusuhan dan merupakan satu bentuk serangan terhadap martabat manusia yang telah menimbulkan penderitaan yang dalam serta rasa takut dan trauma yang luas. (utd/utd)