Maria Catarina Sumarsih, salah satu pegiat JSKK mengatakan, aksi Kamisan memang tidak hanya memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia di masa Orde Baru tapi juga korban kekerasan di era reformasi.
"Hal seperti ini membuat kaum miskin kota dan masyarakat yang selama dipinggirkan pemerintah bergabung dengan kami," kata Sumarsih kepada CNN Indonesia, Kamis (14/5). (Baca juga: Kamisan: Menolak Lupa di Seberang Istana)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumarsih melihat keterlibatan masyarakat pada aksi Kamisan sebagai hal yang menarik. Sejak pertama kali diam dalam satu jam di Istana Merdeka pada tahun 2007, ia berkata, mahasiswa dan pelajar yang tidak mendapatkan ekses langsung kejahatan HAM Orde Baru mulai berpartisipasi.
Menurut Sumarsih, ini adalah pembuktian dari semboyan gerakan menolak lupa yang mereka perjuangkan. "Kami akan tetap ada dan berlipat ganda," ucapnya.
Soal sejauh mana batas keteguhan hati para penggiat aksi Kamisan, Sekretaris Jenderal Ikatan Orang Hilang Zainal Muttaqin memiliki jawaban.
"Suciwati (isteri pejuang HAN almarhum Munir Thalib Said) bilang, Kamisan akan berhenti jika aksi hanya dilakukan oleh tiga orang saja. Maka aksi akan dihentikan," katanya. (sip)