Dilakukannya reshuffle beberapa saat setelah dana proyek cair dianggap Luhut kurang bijaksana. Apalagi, menurut dia, Indonesia merupakan negara yang masih berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah enam bulan ini kami lihat. Pada kuartal kedua. Itu baru dilakukan Januari-Februari," kata dia.
Oleh sebab itu, Luhut menganggap tak layak jika saat ini masyarakat menilai para menteri di bidang ekonomi berkinerja buruk.
"Cobalah pikir secara rasionalitas. Bagaimana sekarang itu, Januari-Februari baru tender. Eksekusi dari proyek baru mulai Maret. Dana baru turun April pertengahan. Terus kamu berpikiran begitu. Itu tidak fair," ujar dia.
Meski demikian, Luhut sadar bahwa perombakan kabinet merupakan hak prerogatif presiden, sehingga ia menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi untuk melakukan hal itu.
Dia juga mengaku tak tahu apa saja yang kemarin diperbincangkan antara Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Presiden. Yang jelas, ia yakin bahwa jika sang Kepala Negara ingin melakukan perombakan, maka akan ada banyak pertimbangan yang akan diambil dan tidak akan mudah ditekan oleh kekuatan partai politik.
"Kalian itu melihat Presiden orang Solo, baik-baik terus. Tapi Presiden itu kalau mau ya dia jalankan," kata Luhut. (meg)