Guna mewujudkan impian memiliki kantor gagah, PDIP melakukan banyak cara, mulai iuran kader hingga lelang lukisan Bung Karno, proklamator dan Presiden RI pertama yang juga ayahanda dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ibu (Mega) menyanyikan beberapa lagu secara live di sekitar tiga acara. Dia berkata ‘Saya mau nyanyi tapi siapa yang mau menyumbang untuk kantor DPP PDI Perjuangan’,” ujar Hasto menirukan ucapan Mega kala itu.
PDIP tak pelak bersyukur dengan usaha ketua umumnya itu. Mega berhasil memberikan sumbangan dana terbanyak untuk pembangunan gedung baru yang biaya total renovasinya mencapai Rp 42,6 miliar.
Sementara untuk lelang lukisan Bung Karno, Hasto tak merinci berapa uang yang dihasilkan atasnya. “Itu hanya lukisan (bergambar) Bung Karno yang ditandatangani oleh Ibu Mega. Beliau tidak ada membuat sendiri karena tidak bisa melukis," kata Hasto.
Mulai 17 Juni, seluruh kegiatan operasional PDIP akan dipusatkan di gedung Diponegoro ini. Sementara kantor lama Dewan Pimpinan Pusat PDIP di Lenteng Agung akan dipakai untuk pusat pelatihan kader serta organisasi sayap partai.
Gedung megah bak hotel di pusat Jakarta itu sesungguhnya bukan kantor lama PDIP, melainkan markas lama partai itu yang tak lagi digunakan sejak meletus Peristiwa 27 Juli 1996 atau Sabtu Kelabu. Ketika itu Kantor PDIP itu diserbu dan direbut massa pendukung Ketua Umum PDI versi Kongres Medan Soerjadi yang dibantu oleh aparat polisi dan TNI. (agk)