Ia pun menyangkal tudingan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi, bahwa BP Migas tidak dapat berbuat apa-apa terhadap perintahnya yang meminta BP Migas menyerahkan kondensat kepada TPPI.
"Saya sudah bertemu dia dan dia mengatakan itu adalah kesalahan statement. Surat Menteri Keuangan ketika itu adalah tentang tata laksana pembayaran," ujar Sri Mulyani usai diperiksa penyidik Badan Reserse Kriminal Polri di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (8/6) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, perempuan yang kerap disapa Ani itu memaparkan surat yang diterbitkannya juga didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran dan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.
Rekomendasi Eksternal
Kedua, surat yang ditujukan BP Migas kepada TPPI Nomor 011 tertanggal 12 Januari 2009 tentang penunjukkan langsung kepada TPPI yang setengah lebih sahamnya dimiliki pemerintah.
Soal surat tentang tata laksana pembayaran yang dikeluarkannya, Ani memastikan dirinya selaku Menteri Keuangan ketika itu mewajibkan TPPI melunasi pembayaran kondensat yang disuplai oleh BP Migas.
"Disebutkan jelas hak pemerintah atas kondensat milik negara yang dikelola BP Migas dan dijual TPPI wajib dilunasi," ucapnya.
Ia menambahkan, kebijakan mengeluarkan surat soal tata laksana pembayaran kondensat oleh TPPI kepada pemerintah itu juga didasarkan pada hasil pertemuan otoritas BP Migas dan Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Disebutnya, kedua lembaga itu telah menggelar tiga pertemuan sebelum mengeluarkan rekomendasi penetapan tata laksana pembayaran kondensat BP Migas yang akan diolah TPPI. (gen)