Mengharap Berkah dari Peziarah

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Minggu, 14/06/2015 11:50 WIB
Mengharap Berkah dari Peziarah wisnu (30 tahun), santri asal Bogor, mengais rezeki di TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (13/6) sebagai pendoa bayaran. (CNN Indonesia/Agust Supriadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak seperti biasanya, Bambang (28 tahun) bangun sedikit lebih awal dari biasanya pada Sabtu (13/6). Semangatnya menggebu ketika mendengar riuh dan bising kendaraan dari Taman Pemakaman Umum (TPU) Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, tak jauh dari tempatnya begadang dan bermalam. Bergegas dia ambil sapu lidi serta wadah penyiram tanaman, tak lupa dia selipkan arit kecil di balik kaus hijaunya, dan bergegas ke "kantor".

Kemarin dan hari ini adalah akhir pekan terakhir sebelum masuk Ramadhan. Ziarah ke makam leluhur menjadi budaya yang lazim di Indonesia, terutama di Pulau Jawa sebelum masuk puasa dan saat lebaran. Saat-saat seperti inilah yang dimanfaatkan pekerja serabutan macam Bambang untuk mendapatkan rezeki lebih dari para peziarah.

Dengan sedikit agak memaksa, Bambang biasanya menyapu dan menyiram makam untuk menarik perhatian dan iba dari para peziarah. Hingga pukul 13.00 WIB, Bambang mengaku sudah mengantongi pendapatan lumayan. Dia dan beberapa tukang sapu kuburan senior lainnya sudah bisa bersantai usai makan siang di bawah rimbun pohon sambil mengopi dan merokok.


"Yah lumayan buat beli rokok dan makan," ujar Bambang kepada CNN Indonesia ketika ditanya soal pemasukannya siang itu.

Menurutnya, sebulan sebelum puasa biasanya setiap Sabtu dan Minggu TPU Kemiri penuh dengan peziarah. Terlebih pada saat dua hari libur lebaran, pasca sholat Ied kondisi TPU dipastikan padat merayap. Berkah yang didapat Bambang dan kawan-kawan biasanya meningkat berkali-kali lipat asalkan mau panas-panasan di kuburan. Tak jarang terjadi perkelahian antar-pemuda kampung karena perebutan lahan garapan dan parkir di pemakaman.

Pendoa Bayaran

Momentum religi tahunan ini juga menarik hasrat Wisnu (30 tahun), santri asal Bogor, Jawa Barat yang sehari-hari menjadi buruh tani. Sabtu kemarin adalah hari perdananya mengadu nasib sebagai pendoa bayaran di TPU Kemiri.

"Saya niatnya cuma bantu doa kok, tapi sampai siang ini belum dapat (pelanggan peziarah). Maklum masih baru, baru kali ini (jadi pendoa makam)," ujarnya lugu.
 
Adalah paman Wisnu, Aher, yang mengajaknya alih profesi sesaat. Pendoa berpengalaman belasan tahun itu menjanjikan pendapatan super lumayan kepada Wisnu asal mau mempraktikan kemampuan mengajinya kepada para peziarah.

Sampai siang itu Wisnu hanya jadi pengamat yang baik karena belum berani menyambangi peziarah untuk mengobral doanya. Dia hanya bisa mengamati kepiawaian pamannya dalam merayu peziarah dari kejauhan.

"Mudah-mudahan nanti ada rezeki buat keluarga saya," tuturnya singkat.

Wisnu dan Bambang adalah contoh dari pengangguran terselubung. Mereka tak punya kerja tetap, tetapi masih mendapatkan penghasilan dari pekerjaan serabutan sebagai tukang bersih dan pendoa makam.  

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan pengangguran terselubung (underemployment) sebagai pekerja yang bekerja dengan jam kerja di bawah jam kerja normal atau kurang dari 35 jam dalam seminggu. Ada dua macam pengangguran terselubung versi BPS, yakni pekerja yang memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu karena sukarela atau kemauan sendiri dan ada juga yang terpaksa.

Penganggur terselubung di Indonesia jumlahnya cukup besar. BPS mencatat jumlah pengangguran terselubung per Februari 2015 mencapai 35,6 juta orang. Dari jumlah tersebut 10,04 juta orang merupakan penganggur terselubung sukarela, sedangkan 25,6 juta orang bekerja kurang dari 35 jam seminggu karena terpaksa. (ags/ags)
tpu