Menurut Tito, kekerasan seharusnya tidak dilakukan oleh para pengojek hanya karena persaingan dalam mencari penumpang setiap harinya. Alasannya, jumlah penduduk Jakarta yang sangat banyak, dinilai Tito, membuat tak perlu adanya aksi kekerasan dilakukan oleh para supir ojek di ibu kota dalam mencari penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya minta tukang ojek mampu untuk menahan diri. Rekan-rekan ojek coba buat inovasi baru agar masyarakat mau menggunakan jasa itu," kata Tito.
Untuk menghindari hal itu, Rahmat mengatakan dirinya lebih memilih untuk tidak menunggu orderan di pangkalan ojek. "Saya lebih memilih beristirahat di pinggir jalan yang sepi atau di musala," kata Rahmat kepada CNN Indonesia.
Go-jek adalah salah satu aplikasi pemesanan ojek yang cukup besar di Jakarta. Selain berbisnis, pembuatnya juga punya niat mulia untuk sedikit membantu jadi solusi kemacetan di Ibu Kota.
"Aspirasi kami adalah kerja sama dengan pemerintah lokal. Go-Jek bukan ingin berkompetisi dengan transportasi umum. Kita malah mau bantu untuk atasi masalah kemacetan," kata CEO Go-jek Nadiem Makarim, Januari silam. (meg)