Salah satu pengusaha MetroMini, Azas Tigor, berharap proses integrasi antara TransJakarta dengan MetroMini di ibu kota dapat terwujud di masa depan. Ia meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih dahulu membuka komunikasi dengan para pengusaha MetroMini yang tidak berada dalam satu manajemen sampai saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"MetroMini sejak tahun 1993 tidak ada pengurusnya lagi karena perpecahan di dalam. Kalau Kopaja kan pengurusnya ada. Sekarang ini di MetroMini adanya orang yang mengaku-ngaku pengurus," ujar Tigor.
"Saya optimistis bisa berjalan (proses integrasi MetroMini dengan TransJakarta) kalau penekatannya individu. Apalagi sekarang kondisi sopir susah, belum tentu setiap hari mendapat setoran. Kalau sudah memakai sistem rupiah per kilometer kan enak, sudah ada kepastian mendapat gaji berapa setiap bulan," kata Tigor.
Ahok, sapaan Basuki, sempat mengatakan telah membuka diri untuk menerima masuknya pengusaha-pengusaha MetroMini ke bawah manajemen PT. TransJakarta dan Kopaja secara pribadi.
"Kalau MetroMini tidak jelas manajemennya, silakan pemilik bus MetroMini masuk ke TransJakarta. Tapi Anda (pemilik MetroMini) harus berada di bawah manajemen Kopaja. Saya tidak peduli pemilik bus merek apa, yang penting busnya bisa dipakai," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (26/6).
Sementara integrasi Kopaja dengan TransJakarta akan mulai berjalan Agustus. Diperkirakan bakal ada 300 bus Kopaja yang dikendalikan oleh PT TransJakarta untuk mengangkut penumpang di seluruh kawasan ibu kota.
Seluruh sopir bus Kopaja baru akan menerima sertifikat dan mendapat gaji sebesar dua kali Upah Minimum Provinsi. Maka jika UMP DKI Jakarta saat ini Rp 2,7 juta, gaji sopir Kopaja nantinya bisa mencapai Rp 5,4 juta tiap bulannya.
Digaji membuat para sopir Kopaja tak perlu mengejar setoran sehingga diharapkan akan mengurangi perilaku ugal-ugalan di jalan raya. Kopaja akan dibayar untuk setiap kilometer yang ditempuh bus mereka oleh PT TransJakarta. (agk)