"Dari dulu juga ada yang ikut," ujar Ryamizard di Lapangan Mako Kor Brimob Polri, Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Rabu (1/7).
Menurut dia, warga memang diperbolehkan untuk menumpangi pesawat milik TNI Angkatan Udara itu sebagai bukti kedekatan tentara dengan rakyat. (Lihat Juga: FOKUS Hercules Jatuh di Medan)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat ini terbang dengan empat mesin turboprop dan umumnya dioperasikan oleh empat hingga enam awak. Hercules C 130 umumnya berpartisipasi dalam militer, sipil dan bantuan kemanusiaan.
Sebelumnya, Tim DVI Polda Sumatera Utara yang bertugas mengidentifikasi korban jatuhnya pesawat Hercules bernomor A-1310 menyebut bahwa hingga pukul 12.00 WIB belum ada warga sipil yang berhasil diidentifikasi. Jumlah yang sudah teridenfikasi adalah 28 orang yang seluruhnya merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU). (Lihat Juga: Belum Ada Korban Sipil Hercules yang Berhasil Diidentifikasi)
“Yang 28 orang teridentifikasi karena mengenakan pakaian dinas TNI yang tertera namanya di dada, jadi mudah bagi kami identifikasi itu,” kata Ketua Tim DVI Ajun Komisaris Besar Zulkhairi di RSUP H Adam Malik, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (1/7).
Menurut Zulkhairi, ada total 142 kantong jenazah yang diterima RSUP Adam Malik yang terdiri dari jenazah utuh dan potongan-potongan. Sementara jumlah keluarga korban yang melapor kehilangan anggota keluarga adalah 70 keluarga. (Lihat Juga: Korban Sipil Hercules Jatuh Tak Ditanggung Asuransi)
“Kami tidak bisa menjelaskan yang potongan-potongan itu,” ujar Zulkhairi yang juga menjabat Kepala Sub Bidang Pelayanan Medik Dokter Kepolisian di RS Bhayangkara Tingkat II Medan Polda Sumatera Utara ini.
Zulkhairi meminta masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya segera melapor ke posko ante mortem yang dibuka di area RSUP Adam Malik. Posko itu akan terus dibuka sampai waktu yang belum ditentukan.
Tim Polri yang diterjunkan dalam keseluruhan proses penanganan kecelakaan Hercules ini mencapai lebih dari 100 orang terdiri dari anggota Polri, dokter Polri, paramedis Polri, dan mahasiswa yang sedang mengambil pendidikan spesialis forensik. (utd)