Salah satu warga, Alex Haryanto (40), mengatakan masjid itu dijaga untuk mencegah jemaat Ahmadiyah melakukan salat Jumat di dalamnya. “Supaya tidak masuk karena sudah disegel,” kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika CNN Indonesia masuk ke dalam masjid, tiga anak muda langsung menyambut. “Salatnya laki-laki di bawah, perempuan di atas,” kata Gilang, salah satu jemaat di sana.
Di luar masjid, warga makin bertambah. Mereka semakin emosi. “Kalau nanti mereka buka gembok, kita tawuran hari ini,” kata salah satu warga.
“Kalau enggak, tarik saja karpetnya, terus siram," timpal warga lain yang berjaga.
Sementara itu, Juru Bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia Yendra Budiana mengatakan jemaat akan melihat sitasi lebih dulu untuk memutuskan apakah melakukan salat Jumat atau tidak.
Sebelum masjid itu disegel, Pemkot Jaksel telah mengeluarkan Surat Peringatan 1 berisi pernyataan bahwa bangunan itu tak sesuai fungsi tentang rumah ibadah dan menyalahi tata ruang.
Menyusul SP1 itu, SP2 dikeluarkan Pemkot Jaksel pada 3 Juli, dan akhirnya bangunan itu disegel pada 8 Juli.
Padahal, menurut Yendra, rumah itu sudah digunakan untuk beribadah oleh jemaat Ahmadiyah sejak tahun 1980-an. “Kalau menyalahi tata ruang dan fungsi, kenapa baru sekarang disegel?” kata dia.
Jemaat Ahmadiyah kini mengirim surat ke Pemkot Jaksel untuk mempertanyakan alasan penyegelan rumah ibadah mereka. Jemaat juga mengirim surat ke Polres Jaksel dan Polda Metro Jaya berisi permintaan perlindungan keamanan. (agk)