"Ruko-ruko itu dihuni oleh 38 kepala keluarga. Sedikitnya 153 orang saat ini menjadi pengungsi karena tempat tinggal mereka rusak," ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (Baca juga: DPR Minta Pemerintah Tidak Simpang Siur Soal Tolikara)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khofifah berharap masyarakat tidak lagi mengait-ngaitkan persoalan Tolikara sebagai tindakan diskriminatif ataupun SARA (suku, agama, ras antargolongan). Sebab berdasarkan fakta temuan di lapangan, bangunan yang terbakar bukan hanya milik penduduk muslim.
Hari ini, Selasa (21/7), Menteri Khofifah akan mengunjungi Tolikara bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise. Selain Khoffiah dan Yohana, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga dijadwalkan menyambangi Tolikara hari ini.
Jumat pekan lalu, terjadi penyerangan terhadap jemaah yang hendak melaksanakan salat Idul Fitri. Penyerangan membuat jemaah salat Id bubar, sementara para penyerang mereka lantas membakar beberapa bangunan rumah, kios dan rumah ibadah.
Untuk mengamankan situasi, polisi menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Sejumlah saksi telah diperiksa terkait kebakaran dan penembakan tersebut.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan akar masalah insiden Tolikara salah satunya berada pada miskomunikasi antara polisi, Gereja Injili di Indonesia (GIDI), dan Bupati Tolikara. (Baca Kapolri: Ada Putus Komunikasi Polres, Gereja, Bupati Tolikara)
(sip/sip)