"Saya yakin ada aktor. Tapi soal itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami (PBNU). Itu urusan polisi," ujar Aqil di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah tekankan kepada khatib solat Jumat untuk tidak menyampaikan khotbah yang bermuatan provokasi," ujar Aqil. (Baca juga Menko Tedjo: Tolikara Sudah Damai, Hindari Solidaritas Sempit)
Secara terpisah, tokoh muslim Tolikara Ustaz Ali Mukhtar ketika ditemui CNN Indonesia di Tolikara mengatakan seluruh pembangunan tempat ibadah di daerahnya memang harus mendapat persetujuan Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Beberapa waktu lalu, menurut dia, sebuah Gereja Advent dibubarkan dan jemaatnya diminta bergabung dengan GIDI.
Oleh sebab itu, kata Ali, berdirinya musala di Tolikara selama ini sesungguhnya merupakan hal luar biasa. Musala yang ikut terbakar dalam kerusuhan Tolikara itu kini akan dibangun kembali menjadi masjid. (Baca: Usai Jumatan, Muslim Tolikara Mulai Bangun Musala Terbakar)
Sementara itu, Aqil menyatakan umat Islam khususnya NU sangat menghormati keberagaman agama. Sebagai negara heterogen, ujar Aqil, Indonesia harus mampu hidup berdampingan dengan penganut agama lain.
"Tidak mungkin Islam semua, Kristen semua, Budha semua, dan Konghucu semua. Jadi itu sudah by design Allah," ujar Aqil.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjamin Papua sudah kondusif dan aman pasca-tertangkapnya dua tersangka yang diduga menjadi provokator kerusuhan Tolikara. (Baca Identitas Tersangka Tolikara: Pegawai Bank dan Staf Pemda)
Pemerintah Daerah dan Kementerian Sosial, yang mendapat bantuan dari berbagai pihak, pun sudah mulai membangun kios-kios yang terbakar di Tolikara. (Baca: Tolikara Banjir Bantuan Sosial, Rehabilitasi Dimulai) (sip)