"Lokasi gempa berada pada zona subduksi atau pertemuan lempeng Hindia Australia dan lempeng Eurasia. Zona ini memang rawan gempa yang bergerak rata-rata 5 hingga 7 cm per tahun ke arah Timur Laut Utara," kata Sutopo melalui pernyataan resmi yang diterima CNN Indonesia, di Jakarta, Minggu (26/7). (Lihat Juga: Gempa Yogya 5,7 SR Terasa di 15 Kota di Jawa Tengah)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BNPB melaporkan gempa dirasakan selama 5 detik di Kabupaten Malang, 6 detik di Kabupaten Blitar, dan 4 detik di Kabupaten Lumajang. Sementara itu, efek gempa juga dirasakan di Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Lumajang, Jember dan Banyuwangi, keseluruhan di Jawa Timur.
Sutopo mengatakan potensi gempa maksimum berada di Jawa Megathrust atau bagian selatan Jawa yakni sekitar 8,1 hingga 8,2 SR. Dari area tersebut, gempa pernah terjadi di wilayah selatan Pangandaran sekuat 7,8 SR pada 2006. Selain itu, gempa dengan kekuatan serupa pernah terjadi di bagian selatan Banyuwangi sebesar 7,8 SR pada 1994. Keduanya terjadi dalam kurun waktu 165 tahun terakhir.
"Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Gempa dapat terjadi tiba-tiba," katanya. (utd)