Kisah Ronny: Ingin Jadi Marinir, Malah Jabat Kapolda & Dirjen

Abraham Utama, CNN Indonesia | Jumat, 31/07/2015 07:29 WIB
Kisah Ronny: Ingin Jadi Marinir, Malah Jabat Kapolda & Dirjen Irjen Ronny Sompie lolos seleksi Dirjen Imigrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ronny Franky Sompie semula bercita-cita mengabdi untuk TNI Angkatan Laut seperti ayahnya. Namun takdir hidupnya berbicara lain. Ronny diarahkan menjadi polisi, meraih pangkat inspektur jenderal, dan kini menjabat Kepala Kepolisian Daerah Bali.

Namun institusi Kepolisian ternyata tak menjadi akhir karier Ronny. Tak lama lagi ia akan dilantik menjadi Direktur Jenderal Imigrasi. (Baca: Pelantikan Kapolda Ronny Sompie Jadi Dirjen Imigrasi Tertunda)

Tahun 1980 tatkala mendaftar di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (yang kemudian melebur jadi Akademi Militer dan Akademi Kepolisian), hati Ronny teguh meneruskan perjuangan ayahnya sebagai marinir.


Kepada CNN Indonesia Ronny bercerita, ayahnya merupakan salah satu prajurit Angkatan Laut Republik Indonesia yang berperang melawan Belanda di bawah komando Komodor Yos Yudarso pada pertempuran Laut Aru tahun 1962.

"Saat saya diterima sebagai taruna AKABRI, September 1980, pilihan saya bukan jadi polisi. Saya memilih Angkatan Laut karena bapak saya," ujarnya.

Namun para pembina AKABRI saat itu melihat potensi Ronny lebih cocok dikembangkan di Kepolisian.

Pria kelahiran Manado ini pun lantas mengabdi kepada Polri, mulai dari wilayah Jawa Timur, Sumatera Utara, Jakarta, hingga kini menjaga keamanan Bali.

Karier Ronny mulai menanjak saat tahun 2010 ditunjuk menjadi Kepala Biro Pengawasan Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri. Pengalamannya sebagai reserse menjadikan dia pemimpin pertama di lembaga itu.

Masyarakat lantas mulai familiar dengan Ronny kala ia dimutasi menjadi Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri tahun 2013. Setahun kemudian Ronny semakin sering muncul di media massa seiring dengan memanasnya kondisi keamanan saat pemilu legislatif dan presiden.

Ronny berkata, sewaktu masih menjabat Kepala Biro Pengawasan dan Penyidikan dengan pangkat brigadir jenderal pada 2012, ia sebenarnya pernah mendaftar mengikuti seleksi pemilihan Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun Ronny gagal hijrah dari Mabes Polri ke Kantor KPK. "Saya kalah dengan salah satu direktur di KPK," ucap dia.

Ronny kembali mencoba peruntungannya untuk alih status dari Kepolisian tahun 2013. Ketika itu ia maju ke seleksi pemilihan deputi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Sayang, serupa dengan satu tahun sebelumnya, Ronny gagal dan harus tetap bekerja di kepolisian.

Jabatan mewah

Pertengahan semester pertama 2015, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan jabatan yang lebih menantang kepada Ronny. Badrodin menunjuk Ronny sebagai Kapolda Bali, sebuah satuan utama kewilayahan bertipe A.

Pada awal masa tugas Ronny di Bali, Denpasar dihebohkan dengan kasus hilangnya seorang anak perempuan bernama Angeline. Melalui serangkaian operasi, anak buah Ronny menemukan anak berusia delapan tahun itu sudah tak bernyawa, dikubur di halaman rumahnya sendiri.

Ronny kembali menjadi sorotan. Pengalamannya sebagai reserse berpengalaman diuji. Polda Bali kemudian menetapkan ibu tiri Angeline, Margriet Megawe, sebagai tersangka.

Keputusan penyidik Polda Bali itu kemudian dipertentangkan oleh kuasa hukum Magriet yang berstatus advokat kondang ibu kota, Hotma Sitompul.

Rabu (29/7), hakim Pengadilan Negeri Denpasar memutuskan penetapan tersangka terhadap Magriet tidak berlawanan dengan kaidah hukum.

"Anak buah saya bekerja dengan keras dan semangat. Penyidikan kami lakukan secara komprehensif dan bersinergi. Penegakan hukum ini bisa menjadi contoh penyidikan bagi penyidik Polri lainnya, terhadap kasus apapun," ungkap Ronny.

Di tengah hiruk-pikuk penanganan kasus Angeline, menjelang lebaran kemarin, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia mengumumkan bahwa Ronny terpilih sebagai Direktur Jenderal Imigrasi.

Ronny terpilih setelah Menkumham Yasonna Laoly batal melantik Kepala Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Kemenkumham Bambang Widodo menjadi Dirjen Imigrasi dan ia menggelar seleksi ulang untuk pengisian jabatan itu.

Ronny bercerita, Yasonna menawarkan kepada Badrodin kalau-kalau ada perwira tinggi Polri yang berminta mengikuti seleksi tersebut.

"Dirjen Imigrasi itu eselon satu A, setara dengan kepala badan di Polri, seperti Baharkam (Badan Pemeliharaan Keamanan), Baintelkam (Badan Intelijen Keamanan), dan badan yang dipimpin jenderal bintang tiga. Motivasi saya ikut seleksi adalah kenaikan eselon," ujar Ronny.

Ia menganggap posisi Dirjen Imigrasi sebagai jabatan mewah. Sebab tak seperti Kapolda yang hanya mengurusi persoalan di satu provinsi, Dirjen Imigrasi bertanggung jawab atas proses keimigrasian di seluruh wilayah Indonesia.

Remunerasi tinggi dan masa pensiun yang dua tahun lebih panjang dibandingkan dengan aturan Polri menjadi dua alasan Ronny lainnya.

Ronny mengatakan, ia tidak akan berpikir dua kali untuk meninggalkan Polri yang telah 31 tahun dibelanya.

"Saya tidak menyesal kalau saya kemudian beralih status. Tujuan saya menapaki hidup adalah survive sebagai anak bangsa," kata Ronny, mantap. (agk/agk)