Gatot dan Evy dijebloskan ke tahanan Senin malam (3/8) usai diperiksa penyidik KPK selama tujuh jam. Sebelumnya pasangan suami-istri itu telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan yang melibatkan pengacara kondang OC Kaligis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk saat ini kami percaya KPK profesional, lebih baik, dan lebih independen," ujar Razman.
"Kami akan tetap melakukan koordinasi dengan Kejaksaan tentang penanganan bantuan sosial," kata Indriyanto ketika dihubungi CNN Indonesia.
Semula dana korupsi bantuan sosial ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Namun penyelidikan kasus tersebut digugat oleh Gubernur Gatot melalui anak buahnya, Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumatera Utara Achmad Fuad Lubis, ke PTUN Medan.
Untuk memuluskan gugatan, Gatot disangka menyuap tiga hakim dan satu panitera PTUN Medan. Suap diduga diberikan melalui kuasa hukum Gatot dan Fuad, OC Kaligis dan bawahan Kaligis, M Yagari Bhastara alias Geri.
Sementara ketiga hakim dan satu panitera penerima duit suap yakni Hakim Tripeni Irianto Putro, Hakim Amir Fauzi, Hakim Dermawan Ginting, dan panitera Syamsir Yusfan. Kasus penyuapan ini ditangani KPK.
Setelah disogok, majelis hakim memenangkan gugatan Fuad. Kejaksaan Tinggi Sumut berhenti mengusut kasus dugaan korupsi bansos di provinsi itu. Namun Kejaksaan Agung mengambil alih kasus tersebut. Perkara itu kini memasuki tahap penyidikan. Kejaksaan Agung membidik sejumlah orang sebagai tersangka kasus korupsi bansos tahun 2011-2013 di Sumut. (agk)