Sebagai kader Muhammadiyah, Hajriyanto menilai Indonesia sebagai negara yang rumit, kompleks dan cair sehingga, butuh strategi khusus di waktu mendatang. "Agar lebih aman dan selamat, Muhammadiyah lebih baik tetap netral secara politik. Kalau perlu Muhammadiyah tidak dekat-dekat dengan politik," ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga opsi, pertama yang ditawarkan adalah Muhammadiyah tetap netral atau tak memihak salah satu partai politik. Meski netral, Muhammadiyah tetap menjalin hubungan baik dengan partai politik; Kedua, membuka sebuah hubungan khusus dengan partai politik tertentu; dan ketiga Muhammadiyah berperan aktif dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Muhammadiyah dalam opsi ini secara aktif mendukung calon-calon yang dinilai dapat memperjuangkan kepentingan Muhammadiyah.
Sebelumnya, Din juga mengemukakan visi Muhammadiyah, yakni Islam berkemajuan. Dengan visi itu, Muhammadiyah mengajak seluruh elemen masyarakat mewujudkan Indonesia yang maju dengan membangkitkan umat sehingga menjadi umat terbaik.
“Islam yang luas tidak bisa direduksi dengan predikat tertentu. Islam berkemajuan visi Muhammadiyah tidak terikat dimensi ruang dan waktu. Kami ingin memantapkan gerakan pencerahan menuju Indonesia berkemajuan,” ujar Din saat membuka muktamar ke-47 di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8).
BACA FOKUS: Kabar dari Dua Muktamar (hel)