Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengatakan, nantinya Pemprov DKI akan membantu masalah distribusi pasien agar tidak menumpuk di satu rumah sakit saja.
Seperti yang terjadi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Persahabatan, dan rumah sakit lainnya yang pasiennya selalu penuh. Caranya, dengan menggandeng rumah sakit swasta untuk bekerja sama menampung pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk masalah pembiayaan, ujar Koesmedi, nantinya rumah sakit yang bersangkutan yang akan membayarkan ke rumah sakit swasta.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga membenarkan adanya perundingan terkait hal tersebut. Bahkan Ahok juga mengundang lembaga-lembaga penegak hukum untuk membicarakan masalah regulasi dan legalitasnya.
"Saya mau kumpulkan, mau undang Bareskrim, Jaksa Agung, KPK, BPK, BPKP, Kemenkes, dan dari BPJS juga rumah sakit vertikal, kita duduk bersama. Mau orang mati atau mau apa?" kata Ahok saat ditemui di Balai Kota, Senin malam (3/8).
Koesmedi melanjutkan, jika sudah ditemukan persetujuan dan jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut, Pemprov DKI Jakarta akan membuat aturannya. (Baca: Pemerintah Siap Paksa RS Swasta Bersinergi dengan BPJS)
"Ini hal baru. Saya juga masih mempelajari. BPJS sebagai pelaksana juga masih belajar. Dia takut diaudit, saya juga takut diaudit. Tapi, masa pasien mati karena (kami) ketakutan (diaudit),” kata Koesmedi.
Selama ini memang sering kali dikabarkan pasien BPJS ditolak di sebuah rumah sakit. Selain karena salah prosedur, juga karena kapasitas rumah sakit pemerintah tidak muat menampung lagi. (Baca: Cerita Terlantar, Kisah Rutin Pasien BPJS Kesehatan) (obs)