"Ke depan tidak bisa menarik uang kontan satu sen pun lagi, jadi EDC (electronic data center) harus diperbanyak," kata Ahok saat ditemui di Balai Kota, Jakarta, Jumat (7/8). Jika tak bisa tarik tunai di ATM, tambahnya, "kamu musti belanja pakai debit."
Masalahnya, kata Ahok, saat sistem perbankan tidak bisa dibatasi. Jika seseorang membuka rekening, secara otomatis orang tersebut bisa melakukan debit dan tarik tunai. (Baca juga: Penyeleweng Kartu Pintar Kebanyakan Orang Tua Siswa SD)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI menemukan adanya penyelewengan KJP yang digunakan untuk membeli emas, tarik tunai, sampai digunakan di tempat karaoke. Atas temuan itu pihak Pemprov DKI pun langsung melakukan tindakan. Dari data sementara Bank DKI ditemukan 20 orang pemegang KJP menyelewengkan kartunya. (Baca: Kartu Jakarta Pintar Diselewengkan Untuk Karaoke)
Pihak Dinas Pendidikan pun mengaku akan terus melakukan pemeriksaan dan verifikasi data. Diperkirakan dibutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan kasus ini.
"Kami mau tuntaskan dulu modusnya seperti apa. Jadi susah juga komunikasinya kadang-kadang," kata Nahdiana Unit Pelaksana Teknis Pusat Perencanaan dan Pengendalian Pendanaan Pendidikan Personal dan Operasional (P6O) yang khusus menangani KJP saat dihubungi, kemarin. (Baca juga: Ahok: KJP Diselewengkan Buat Beli Bensin Hingga Emas)
(sip)