Kisah Ratusan Pekerja China di Tanah Lebak

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Minggu, 16/08/2015 09:38 WIB
Ada 700 pekerja China yang berada di lokasi proyek pembangunan pabrik semen di Bayah, Lebak, Banten. Mereka bekerja bersama sekitar 1.700 pegawai lokal. Para pekerja Tiongkok sedang istirahat makan siang di proyek pembangunan pabrik semen di Bayah, Lebak, Banten. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wajah-wajah asing melempar pandangan heran ketika mobil yang ditumpangi Tim CNN Indonesia memasuki area pembangunan pabrik semen di Kecamatan Bayah, Lebak, Banten, Juli. Tatapan penuh rasa ingin tahu terpancar dari mata mereka.

Kedatangan tamu ‘tak diundang’ membuat mereka berpaling sejenak dari pekerjaan yang sedang ditekuni. Ada yang sedang mengoperasikan alat berat, merangkai besi untuk pondasi, atau bergegas menuju salah satu lokasi di pabrik itu.

CNN Indonesia langsung menuju kantor pusat pabrik semen tersebut, PT Cemindo Gemilang. Kantor bercat putih dengan jendela besar itu masih terlihat baru.


Corporate Social Responsibility (CSR) dan Public Relation Manager PT Cemindo Gemilang, Sigit Indrayana, lantas bercerita panjang soal 700 pekerja China yang didatangkan untuk membangun pabrik semen di Bayah itu.

Pabrik tersebut memproduksi Semen Merah Putih. Para pekerja China di sana datang ke Indonesia melalui sebuah perusahaan kontraktor besar milik China bernama PT Sinoma. Di Indonesia, PT Sinoma memiliki kontrak Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) dengan PT Cemindo Gemilang.

Maka seluruh proses terkait pembangunan dan persiapan operasional pabrik berada di bawah tanggung jawab PT Sinoma –Badan Usaha Nasional di China yang memiliki spesialisasi di bidang pembangunan pabrik semen dan berpengalaman membangun lebih dari 100 pabrik semen di sedikitnya 50 negara.

Alasan pengalaman dan keahlian itulah yang membuat PT Cemindo Gemilang  menggunakan jasa konstruksi PT Sinoma untuk membangun pabriknya di Bayah. Pabrik seluas 80 hektare yang menempati total area 500 hektare tersebut merupakan bagian dari proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan sudah dicanangkan sejak era Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013.

Sigit mengatakan 700 pekerja China yang diboyong PT Sinoma ke Bayah tidak datang secara bersamaan, melainkan terbagi ke dalam beberapa gelombang tergantung kebutuhan pada tahap pembangunan pabrik yang tengah berlangsung, sebab mereka mempunyai kualifikasi berbeda.

Pada tahap awal, ujar Sigit, hanya ada 5-6 pekerja China yang dibawa ke Indonesia. Namun ketika memulai tahap pembangunan living area, perusahaan mendatangkan 50 pekerja China sekaligus.

"Puncaknya saat transisi antara konstruksi dan mechanical, hampir 700 orang (pekerja China) langsung didatangkan," kata Sigit.

Saat ini jumlah pekerja China yang masih berada di area proyek tersebut sekitar 400 orang. Jumlahnya berkurang dari 700 orang lantaran proses pembangunan pabrik kini sudah mencapai 90 persen.

"Sekarang sedang tahap mechanical-electrical, jadi tidak terlalu banyak (orang) seperti saat konstruksi," ujar Sigit.

Pekerja China yang memiliki keahlian di bidang konstruksi, datang pada awal pembangunan pabrik. Ketika sudah memasuki tahap mechanical dan electrical, mereka dipulangkan ke negaranya dan masa kontraknya selesai.

Selanjutnya masuk lagi para pekerja baru yang memiliki keahlian di bidang mechanical dan electrical untuk merakit dan mengoperasikan mesin. Mereka pun dikontrak dalam jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Legalitas

Bisnis menjadi alasan paling utama bagi PT Cemindo Gemilang untuk membangun proyeknya, dan PT Sinoma dipilih sebagai mitra karena menang tender. Perusahaan China itu disebut Sigit tak sembarang mendatangkan pekerja ke Bayah.

"Pekerja China dipilih karena pengalaman mereka. Kami memilih berdasarkan pengalaman, teknologi, dan harga," kata Sigit.  

Sementara terkait legalitas para pekerja China tersebut, Project Manager PT Sinoma Engineering Indonesia Xia Yi menyatakan semua pekerjanya di Bayah adalah sah. Ia tegas membantah kabar yang menyebut ratusan pekerjanya ilegal.

"Kami punya lesensi yang legal. Kami merupakan salah satu perusahan terbesar di dunia, maka tentu semua legal. Kami juga mendapat dukungan dan izin dari pemerintah Indonesia," kata Xia Yi. (Baca juga Menteri Hanif: Pekerja Asing Tak Mudah Masuk Indonesia)

Ini bukan kali pertama PT Sinoma membangun pabrik semen di Indonesia. Sebelumnya jasa mereka juga digunakan untuk membangun pabrik Semen Jawa, Semen Garuda, dan Indocement.

Selain membuat pabrik, PT Cimendo Gemilang juga membangun pelabuhan yang akan terintegrasi dengan pabrik. Dalam proyek ini, sekitar 31 pekerja Tiongkok dipekerjakan oleh kontraktor PT China Harbour Indonesia (CHI).

Sama seperti PT Sinoma, PT CHI juga memenangkan tender. Kedua kontraktor tersebut terpilih karena dipercaya bisa mempercepat pembangunan. PT Sinoma berhasil membangun pabrik semen di Bayah dalam kurun waktu 28 bulan dari yang seharusnya 32 bulan.

Sebelum PT Sinoma terpilih, ada beberapa perusahaan lain yang mengikuti tender, termasuk dari Eropa maupun gabungan Eropa-Asia. Namun Sinoma menang karena dinilai lebih kompetitif.

Para pekerja asal Tiongkok di Lebak ini memiliki izin kerja resmi dari pemerintah Indonesia. Jika pembangunan pabrik semen sudah selesai, mereka semua akan kembali ke negaranya. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni).
Transfer keahlian

Bukan hanya 700 pekerja China yang membangun pabrik semen di Bayah. Setidaknya terdapat 1.500 tenaga lokal yang bekerja di sana. Mereka merupakan warga yang tinggal di sekitar area proyek.

"PT Sinoma itu seperti binder-nya, tidak bisa kerja sendirian. Mereka melibatkan 1.500-1.700 orang karyawan lokal. Perbandingan pekerja lokal dan Tiongkok 2:1," kata Sigit.

Para pekerja ahli dari Tiongkok berada di level engineer, supervisor, manager, serta side manager. Sementara mayoritas pekerja lokal ada di level bertukang. Mereka di bawah koordinasi pekerja Tiongkok.

Berdasarkan pantauan CNN Indonesia di lokasi pabrik semen tersebut, pekerja asal Tiongkok dan Indonesia terlihat bekerja berdampingan. Ada pula transfer keterampilan dan pengetahuan dari pekerja Tiongkok ke buruh lokal.

Itu sebabnya meski para pekerja Tiongkok memiliki jabatan lebih tinggi, mereka tetap mengecor jalan. "Mereka memberikan contoh cara bekerja untuk ditiru pekerja lokal. Itu cara mereka transfer pengetahuan. Mereka memberi tahu secara langsung," kata Supertintendent Benny Suryo Ariotejo.

Sayangnya proses transfer pengetahuan itu kerap terkendala bahasa. "Susah sekali mengertinya. Apalagi mereka tidak bisa Bahasa Inggris. Kalau bisa mungkin akan lebih mudah," kata salah satu pekerja lokal, Akuy, yang sedang bekerja berdampingan dengan rekannya dari Tiongkok.

Satu-satunya cara berkomunikasi yang dapat dipahami kedua belah pihak ialah menggunakan bahasa isyarat. "Akhirnya pakai bahasa isyarat, seperti menunjuk-nunjuk. Yang kadang membuat tidak berkenan, mereka nunjuknya pakai kaki," ujar Akuy.

Akhirnya demi kelancaran komunikasi pekerja, sesekali ada penerjemah yang disediakan perusahaan.

Para pekerja lokal tak hanya diajari teknis bekerja, tapi juga disiplin. “Kalau mau istirahat sebentar saat jam kerja, tidak boleh duduk. Harus berdiri," kata Rudi, pekerja asal Pangarangan, Banten.

Pekerja Tiongkok pun dikenal amat disiplin dengan waktu. Jam makan misalnya selalu sesuai jadwal. “Kalau sudah mau jam istirahat, walaupun cuma kurang dua menit, pekerjaan belum boleh selesai. Harus tepat waktu," ujar Akuy.

Akuy dan Rudi merupakan buruh harian yang bekerja di proyek pembangunan pabrik tersebut. Mereka digaji Rp 70 ribu per hari dengan jam kerja mulai dari pukul 07.30 sampai 17.00 WIB.

Keduanya tak mau mengungkapkan berapa jumlah gaji rekan mereka dari Tiongkok dengan alasan itu rahasia. (agk/agk)




ARTIKEL TERKAIT