Liputan Khusus

Cerita Jusuf dan Terbakarnya Jas Milik Soekarno

Sandy Indra Pratama, CNN Indonesia | Senin, 17/08/2015 09:23 WIB
Cerita Jusuf dan Terbakarnya Jas Milik Soekarno M Jusuf Ronodipuro, (Dok.Wikimedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sederhana. Satu kata yang bisa mendefinisikan sosok Jusuf Ronodipuro, pemuda yang pada zamannya merupakan pengabar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seantero dunia, berselang sekitar sembilan jam setelah resmi dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Bapak itu bersahabat baik dengan Bung Karno, tapi ia tak pernah memanfaatkan kedekatannya dengan sang Presiden Indonesia pertama itu. Bapak tetap bapak. Ia sosok yang sederhana,” kata Dharmawan Ronodipuro, putra sulung, Jusuf Ronodipuro.

Saking sederhananya sosok bapak bagi Dharmawan, ia lantas teringat sebuah cerita yang pernah didengar dari ayahnya itu. Cerita yang mengisahkan hubungan dekat antara sosok ayahnya dengan sang Proklamator, Bung Karno.   (Baca juga: Kisah Tentang Si Penyebar Kabar Indonesia Merdeka)


“Ceritanya itu soal pernikahan bapak,” katanya.

M Jusuf Ronodipuro yang kelahiran Salatiga 30 September 1919, menikah pada 1954. Itu berarti Jusuf muda menikah dengan Siti Fatima Rassat pada usia 35 tahun.

Kala itu, Jusuf tak punya jas untuk resepsi pernikahannya.

Tak mau memaksakan diri, Jusuf lantas berniat menikah tanpa menggunakan stelanjas. Kabar ini rupanya didengar Soekarno sang presiden. “Bung Karno kemudian meminjamkan jas miliknya untuk bapak,” ujar Dharmawan. Alhasil, Jusuf yang sederhana itu jadi juga menikah menggunakan stelah jas. Milik presiden pula. Sebuah hal yang istimewa.  (Baca juga: Hari-Hari Jusuf Ronodipuro Sebelum Proklamasi Dibacakan)

Pada harinya prosesi pernikahan lantas berjalan lancar. Tanpa terbata Ijab dan Qabul sebagai janji suci lancar terucap dari mulut sang penyiar radio itu. Alhasil hari itu, Siti Fatima Rassat yang kelak membuahkan tiga anak bagi Jusuf, resmi menjadi istrinya.

Sepekan berselang, Jusuf hendak mengembalikan jas pinjaman dari Soekarno. Namun ia segan mengembalikan jas milik Bung Karno tanpa dirapikan terlebih dulu. Maklum jaman dulu jas tak bisa mudah didapat seperti hari ini. 

“Kesialan muncul, binatu tempat bapak menitipkan jas Soekarno untuk dibersihkan kebakaran, dan jas yang ia dari sang proklamator turut terbakar,” katanya. Jusuf sang ayah, kata Dharmawan, selalu menceritakan kisah lucu ini dengan penuh tawa.

Mengalami kesialan itu sempat membuat Jusuf menghindari pertemuan dengan Soekarno lantaran takut. Namun hatinya lega saat Soekarno tahu soal insiden itu dan merelakan salah satu jasnya terbakar lantaran nasib sial Jusuf Ronodipuro. Bahkan, alih-alih marah Bung Karno malah terbahak mendengar cerita Jusuf dan jas pinjaman itu.  (Simak Fokus: Penyebar Kabar Indonesia Merdeka)

Gaya hidup sederhana juga merasuk ke dalam sifat sosial Jusuf. Menurut Dharmawan, Jusuf adalah orang yang berpikir sangat sederhana. “Bapak tak mau terlalu repot jika punya urusan, dia orang yang sabar,” katanya.

Buktinya, kata Dharmawan, pernah satu kali mobil merek Buick milik Jusuf dicuri dop peleknya. Melihat barang kesayangannya itu dijahili orang, Jusuf sontak bereaksi. Namun reaksinya tak berlebihan. Ia tak marah. Alih alih mengamuk lantara mobil kesayangannya dijahili, ia hanya melaporkan insiden itu ke kepolisian, sesuai aturan.

Tak berselang lama, pencuri dop mobil Jusuf tertangkap. Sang empunya lantas dipertemukan dengan si maling. Namun ternyata reaksinya tak dapat disangka. Tanpa harus marah berlebihan, Jusuf malah memaafkan dan meminta polisi untuk melepaskan sang pencuri. “Baginya terpenting dop mobil itu kembali ke tangannya, ia tak mau berurusan panjang, pemikirannya sederhana sekali,” kata Dharmawan.

Kesederhanaan adalah nilai yang diwariskan Jusuf kepada anak-anaknya. Daripada sibuk menonjolkan diri, kata Dharmawan, “bapak lebih berpikir keras untuk bagaimana caranya hidup bermanfaat.”

Jusuf yang merupakan sahabat bekas Presiden Sukarno pernah menjadi Sekjen Departemen Penerangan, Ia pernah ditugaskan di Departemen Luar Negeri, antara lain di Inggris dan PBB, New York. Pada masa Orde Baru, beliau pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Buenos Aires, Argentina dan sempat merasakan berbagai posisi jabatan, sampai akhirnya ia pensiun pada 31 Mei 1976. Namun baginya pensiun tak berarti harus berdiam diri dirumah. Jusuf pun pernah tercatat sebagai penasehat di beberapa organisasi sosial nirlaba semacam LP3ES, Yayasan Lembaga Indonesia Amerika, dan Dewan Harian Nasional Angkatan 45.

Sejak terserang stroke bulan Juni 2007, Jusuf, tokoh penting pendiri RRI ini beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Pada Ahad, 27 Januari 2008, pukul 23.35 WIB ia meninggal di RSPAD Gatot Subroto akibat kanker paru-paru dan stroke. Mendiang dimakamkan di TMP Kalibata pukul 13.10 WIB dan meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak. (sip)