Anang Iskandar adalah Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1982, sedangkan Budi Waseso angkatan 1984.
Jika mengacu pada angkatan, perpindahan Anang Iskandar menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal bukanlah kaderisasi lantaran Anang menggantikan Budi yang dua tahun lebih muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanggung jawabnya lebih luas karena kebijakan pemberantas narkoba secara nasional adanya di sana, kita di sini (Polri) hanya melaksanakan," katanya.
Pada jelang dini hari kemarin, terjadi pergeseran penting di tubuh Polri. Budi Waseso digeser menjadi Kepala BNN, sedang Anang Iskandar yang Kepala BNN menjadi Kabareskrim. Pertukaran posisi ini mengakhiri polemik jelang pergantian Kabareskrim.
Sebelum pergantian itu, Bareskrim melakukan penggeledahan atas Kantor Pelindo II. Kemudian dilanjutkan penggeledahan di kantor Pertamina Foundation. Kelar penggeledahan, muncul kabar bahwa Kabareskrim Budi Waseso diganti. Budi Waseso sendiri menyatakan dirinya masih Kabareskrim.
Sanggahan itu membuat beberapa pihak berkomentar. Salah satunya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Luhut Pandjaitan. Luhut menyatakan agar para aparat pemerintah termasuk TNI dan Polri untuk loyal kepada pimpinan masing-masing lembaga dan pimpinan tertinggi.
Jenderal Badrodin Haiti lantas menyatakan bahwa Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tertinggi Polri tengah membahas soal pergantian beberapa perwira tinggi Polri, termasuk Budi Waseso. Keputusan Wanjakti keluar pada jelang dini hari.
Pada Kamis ((3/9) pukul 23.10 WIB, Budi Waseso menerima telegram rahasia yang isinya dirinya akan dipindah menjai Kepala BNN sementara posisinya digantikan oleh Anang Iskandar yang sebelumnya adalah Kepala BNN. (hel)