Menurut Jane, permintaan maaf negara atas G30S sangat penting, terutama bagi keluarga dan korban G30S. Meski demikian Jane paham kesulitan Jokowi untuk sekadar minta maaf mewakili negara.
"Dia hati-hati dan tidak sembrono," kata Jane kepada CNN Indonesia di kediamannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permintaan maaf menyangkut tragedi G30S yang sempat diklaim didalangi oleh Partai Komunis Indonesia, menurut Jane, adalah peristiwa sangat sensitif. Itulah yang diyakini Jane membuat Jokowi tak mudah memutuskan untuk meminta maaf.
Oleh karena kedekatan itu, mereka yang aktif di Lekra turut menjadi korban pasca-peristiwa G30S, baik ditahan ataupun dibunuh.
Oey Hay Djoen, suami Jane, adalah salah satu contohnya. Anggota Sekretariat Pusat Lekra ini pernah menjadi anggota DPR dari PKI. Ia ditangkap beberapa hari setelah peristiwa G30S dan dipenjara selama 14 tahun.
Oey ditahan tanpa diadili. Masa penahanan Oey paling lama di Pulau Buru, Maluku. Di sana Oey mendapat nomor 001. Bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Oey dibebaskan tahun 1979.
Jokowi menyampaikan ketiadaan niatnya untuk minta maaf soal G30S saat bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.
"Sama sekali tak ada agenda, bahkan terpikir pun tidak, sehingga isu yang berkembang bahwa pemerintah akan meminta maaf (soal G30S), sudah terklarifikasi. Presiden tak akan membuat permintaan maaf," kata Haedar usai bertemu Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Apapun keputusan Presiden terkait hal itu, ujar Haedar, PP Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat mendukung penuh.