Peneliti Lembaga Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia Pheter Angdika mengatakan, SIBI dikembangkan dari bahasa isyarat yang digagas pemerintah Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pheter yang juga penyandang tuli ini, berbeda dengan SIBI yang mengharuskan penyandang tuli membaca gerak bibir lawan bicaranya, Bisindo lebih aplikatif karena mengedepankan visual dan ekspresi.
Kepada CNN Indonesia, Pheter juga bicara menggunakan Bisindo. Ia terlihat ekspresif sehingga perbincangan berjalan lebih komunikatif dibandingkan saat menggunakan SIBI.
"Kami kuat secara visual, bukan di telinga. Bagi kami, mata adalah pengganti telinga sedangkan tangan merupakan pengganti mulut," ujarnya.
Adapun, upaya Gerkatin mendorong pemerintah mengakui Bisindo telah berlangsung sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika itu mereka mengumpulkan petisi yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Menteri Sosial.
Gerkatin berharap, Bisindo dapat digunakan di seluruh tingkat sekolah luar biasa. Selain itu, pemerintah harus meningkatkan aksebilitas para penyandang tuli dengan menambah jumlah penerjemah serta memperluas pemahaman Bisindo di masyarakat luas. (sur)