Perlakuan tersebut merupakan satu dari banyak perlakuan diskriminatif yang kerap menimpa bekas tahanan politik seperti dirinya. Padahal kerabat dan tetangga sama sekali tak mempermasalahkan statusnya sebagai bekas tahanan politik Orde Baru.
Eddy adalah salah satu tahanan politik pasca tragedi Gerakan 30 September 1965. Ia ditangkap pada 1969 atau empat tahun setelah pecahnya peristiwa berdarah itu. Sembilan tahun lamanya ia lantas harus dipenjara dan diasingkan tanpa diadili sama sekali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CGMI memang bukan organisasi sayap PKI. Namun organisasi ini memang punya kedekatan dengan partai politik pimpinan Dipa Nusantara Aidit itu. “Kebanyakan anak-anak anggota PKI bergabung masuk ke CGMI,” kata Eddy kepada CNN Indonesia.
Lihat juga:Genjer-genjer: Dendang Tercela Lagu Stigma |
Empat tahun Eddy harus bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain dan menumpang di rumah saudaranya. Namun suatu hari pada bulan April 1969, ia tertangkap juga.
Setelah ditangkap, Eddy langsung ditahan di rumah kalong, sebuah rumah di Jalan Gunung Sahari III, Jakarta Pusat. Rumah kalong saat itu dikenal sangat angker karena menjadi semacam rumah penyiksaan untuk orang yang ditangkap karena terlibat PKI.
Berbagai penyiksaan ia alami di rumah tersebut selama hampir dua bulan. Keluar dari rumah kalong, Eddy kemudian dipindahkan ke penjara Salemba. Lima bulan lamanya ia berada di penjara tersebut. “Bulan November 1969 saya dipindah ke Pulau Buru,” katanya.
Kembali ke rumah, tak ada perubahan perlakuan yang diterimanya dari lingkungan. Tetangga dan keluarga bersikap biasa saja. Yang berbeda justru dari militer yang selalu mengawasinya.
“Kami seperti tak punya kebebasan, setiap bulan selalu dikumpulkan di Koramil,” katanya.
Bukan hanya perkara wajib lapor, tentara saat itu menurut Eddy juga tak segan-segan secara paksa mengambil barang miliknya.
Kebetulan setelah keluar penjara, Eddy membuka warung. Tentara saat itu kerap meminta rokok dan kebutuhan lainnya seperti kerta untuk kepentingan kantor mereka. Perlakuan diskriminatif ini terus didapatkannya hingga orde baru tumbang. (sur/sip)