Namun sayangnya rezim Orde Baru tersebut harus berakhir dengan cara yang tidak biasa, yaitu pengunduran diri Soeharto karena desakan masyarakat khususnya mahasiswa yang saat itu melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mengungkapkan bahwa jatuhnya rezim Soeharto tidak semata-mata karena aksi mahasiswa, namun TNI pun ikut berandil di dalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan politik pada 1998 tidak mungkin terjadi jika ABRI tidak mengambil posisi yang berbeda dengan Soeharto. Saat itu, kepentingan Soeharto tidak sama lagi dengan ABRI," ujarnya.
Namun kejenuhan tersebut agaknya semakin lama semakin luntur, apalagi hingga saat ini politisasi yang melibatkan TNI masih terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hal tersebut sedikit disayangkan karena awal reformasi ditandai dengan hubungan militer dan sipil yang membaik.
Maka dari itu, kata Ikrar, jika TNI kembali menunjukkan keinginan untuk menguasai Indonesia maka itu bisa dinamakan akhir dari rezim reformasi.
Aktivis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Bahrain mengatakan, keinginan TNI untuk kembali menguasai birokrasi didasari atas kerinduannya untuk kembali ke zaman Orde Baru.
"Padahal dulu mereka yang jenuh tapi sekarang rasa itu kembali lagi. Itulah dinamika," kata Bahrain. (sur)