"Bela negara perlu, karena lebih murah biayai publik, masyarakat untuk membantu negara, kan lebih mahal membayar yang tetap, dibandingkan partisan," ujar Dimyati di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (13/10).
Politikus Partai Persatuan Pembangunan menjelaskan, anggaran bela negara yang ditujukan kepada masyarakat, lebih murah dibandingkan untuk kenaikan tunjangan dan gaji prajurit. Sebab, bela negara akan berdampak baik untuk kesiapan masyarakat dalam menghadapi situasi dan kondisi darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimyati menilai, rencana program bela negara tidak seperti program pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Karena dalam bela negara, hanya rakyat yang di untungkan, pengusaha tidak mendapat untung.
Meski belum memiliki regulasi teknis yang jelas, Dimyati menyatakan jika konteks bela negara sudah termaktub dalam konstitusi di pembukan Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga, dia dan partainya, mendukung program tersebut. Dia pun tak khawatir jika ke depannya, bela negara akan menimbulkan militer-militer sipil.
Rencana program bela negara dicanangkan Kementerian Pertahanan yang menargetkan dapat merekrut 100 juta masyarakat sebagai kader, dalam kurun waktu sepuluh tahun, untuk menyelesaikan program bela negara.
Rencananya, program tersebut akan dibuka di 45 kabupaten dan kota 19 Oktober mendatang dengan target merekrut 4.500 masyarakat. (pit)