Bambang mengatakan sebanyak 49 Sesame kini sedang dalam tahap produksi. Alat ini nantinya akan diuji coba di berbagai daerah bergambut, termasuk Jatiluhur.
"Februari tahun depan akan siap. Selain untuk memantau kebasahan gambut, alat ini juga bisa digunakan untuk mengetahui gerakan air," kata Bambang saat konferensi pers di BPPT, Jakarta, Selasa (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat mendukung pembuatan sekat kanal di daerah bergambut karena gambut harus basah agar tidak terbakar. Namun, saya dengar pembuatan sekat kanal itu ternyata tidak begitu sukses di lapangan," katanya.
Namun, pembukaan lahan berupa pengeringan areal gambut menyebabkan air pun hilang. Gambut yang kering membuat gambut tersebut mudah terbakar. Selain itu, juga berdampak lain, yaitu banjir.
"Pencegahan karhutla berarti pula pencegahan pengeringan gambut. Buat sekat kanal sebanyak-banyaknya di wilayah gambut. Undang pula ahli tata air," kata peneliti yang juga menjabat sebagai Kepala Dewan Riset Nasional ini.
Selain itu, Bambang juga menyarakan pemerintah mengembangkan pugas (penyubur khusus tanah gambut).
Sebelumnya, Tim Kepresidenan mengatakan solusi untuk mengatasi kebakaran di lahan gambut itu dilakukan dengan membuat kanal bersekat dan di sisi kanan dan kirinya diberi stok air dengan embung. Dengan cara itu dilakukan pembasahan (rewetting) lahan gambut.
Sekat kanal bersama embungnya selain dibuat di Lokasi Bekas Kebakaran, Desa Rimbo Panjang, Kemacetan Tambang, Kabupaten Kampar, juga telah dikerjakan di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, lokasi yang telah dikunjungi Presiden Joko Widodo pada bulan September lalu. (meg)