"Kami kemungkinan menggunakan kapal laut untuk mengevakuasi anak-anak, setidaknya sampai kondisi membaik," kata Luhut di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis (22/10).
Evakuasi dengan kapal perang itu dilakukan apabila indeks standar pencemaran udara (ISPU) di daerah terdampak kabut asap sudah mengkhawatirkan sehingga upaya lain tak dapat ditempuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan mengambil langkah penanganan yang besar dan terukur," ujar Luhut.
Menurut Luhut, penanganan secara besar-besaran membutuhkan sumber daya yang besar agar setidaknya bisa meminimalisasi dampak kebakaran.
"Nanti Menkes akan diminta mengeluarkan data berapa ISPU yang menjadi batas aman atau normal," kata Luhut.
Tahap kedua adalah mengevakuasi warga, khususnya anak-anak, ke arah selatan dari daerah tempat kabut asap. Luhut mencontohkan, anak-anak di wilayah Kalimantan Tengah bisa dievakuasi ke sekitar Banjarmasin di Kalimantan Selatan.
Jika dua tahap tersebut gagal terlaksana lantaran ISPU di sana sudah mengkawatirkan, maka saat itulah diambil opsi evakuasi menggunakan kapal perang TNI AL.
Belum bencana nasional
Terkait desakan agar pemerintah menjadikan kebakaran hutan tahun ini sebagai bencana nasional, Luhut enggan menanggapinya.
Luhut beralasan, kebakaran hutan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam belaka. "Ini berhubungan juga dengan masalah hukum," kata dia.
Namun meski tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, ujar Luhut, pemerintah menangani dan memperlakukan masalah kebakaran hutan dan bencana kabut asap ini dengan skala seperti bencana nasional.
“Penanganan sudah all out seperti bencana nasional," ujar Luhut.
Simak Fokus: KEBAKARAN HUTAN, PEMERINTAH GAGAL?
Pada rapat penanganan lanjutan masalah kebakaran yang digelar di kantornya pagi ini, Luhut juga menyinggung kondisi kebakaran hutan di beberapa daerah yang memburuk.
"Berdasarkan citra satelit per hari ini, kondisi api di lahan gambut sudah menyebar hampir di 10 hingga 15 meter di bawah," kata Luhut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah titik api di seluruh Indonesia kemarin meningkat drastis menjadi 3.226 titik, dengan sebaran meluas hingga Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. (agk)