Angka tersebut didapatkan berdasarkan hasil survei nasional yang diselenggarakan lembaga kajian nirlaba Populi Center pada periode waktu 15 hingga 22 Oktober 2015, di 34 provinsi Indonesia.
Direktur Populi Center Nico Harjanto menyatakan angka tersebut merupakan hal yang wajar. "Setahun ini masa konsolidasi kabinet kerja di dalam. Sementara dukungan di parlemen juga kecil," kata Nico.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun tingkat kepuasan menurun, peneliiti Populi Center Nona Evita menilai Presiden Jokowi masih dipercaya masyarakat luas sebagai pemimpin yang memberi harapan perbaikan. Hal ini terlihat pada hasil survei yang menunjukan elektabilitas Jokowi masih berada di puncak di antara 18 tokoh lain.
Hasil survei menunjukan, masyarakat menilai prestasi Jokowi yang paling menonjol pada pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Indonesia Sejahtera sebanyak 30,6 persen. Selanjutnya, 20,8 persen publik menilai penyaluran dana desa menjadi prestasi kedua yang paling menonjol.
Sebaliknya, sebanyak 58,2 persen masyarakat menilai bahwa kenaikan harga BBM pada November 2014 merupakan keputusan Jokowi yang paling mengecewakan. Disusul dengan pencalonan Kapolri ada Januari 2014 yang berujung konflik antara KPK dengan Polri dengan nilai sebesar 10,9 persen. (utd)