“KontraS tidak melihat adanya ruang koordinasi antarlembaga negara atau pun langkah serius untuk memberikan perlindungan hak-hak dasar warga yang menetap di sekitar wilayah hutan dan lahan," kata Puri Kencana, Wakil Koordinator Bidang Strategi dan Mobilisasi KontraS, di kantornya, Jakarta, Senin (9/11).
KontraS menganggap pemerintah gagal dalam mendefinisikan bentuk kedaruratan terkait jaminan kesehatan publik. Padahal kedaruratan semacam itu tertera dalam Pasal 4 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik.
Pelanggaran HAM yang terjadi selama kebakaran hutan dan bencana kabut asap melanda Indonesia, menurut KontraS, sedikitnya ada lima. Pertama, terkait kondisi hidup dan kesehatan masyarakat, di mana upaya inisiatif dari Kementerian Kesehatan atau pemerintah daerah tidak diadopsi sebagai langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan secara nasional.
"Pelanggaran tersebut menguat, apalagi dengan ditemukannya korban jiwa selama kebakaran hutan dan bencana kabut asap," ujar Puri.
Pelanggaran ketiga terkait hak pendidikan anak sekolah, di mana pemerintah dianggap telah mengambil keputusan sepihak untuk meliburkan para siswa akibat fasilitas publik yang bebas asap tak tersedia dengan baik.
Keengganan yang ditunjukkan pemerintah tersebut dianggap KontraS lebih termotivasi oleh faktor ekonomi Indonesia. Hal itu, menurut KontraS, telah merendahkan semangat akuntabilitas pemerintah.
Sementara pelanggaran kelima adalah kurangnya perlindungan pemerintah terhadap masyarakat hukum adat. Padahal mayoritas hutan adat yang yang dikelola oleh masyarakat hukum adat menjadi wilayah yang terkena kebakaran hutan.
Musim hujan yang mulai menghampiri sebagian wilayah Indonesia, tak lantas membuat problem seputar kabut asap hilang begitu saja. Tanpa langkah dan kebijakan sistematis, bencana ini akan terus berulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT