Martin hadir sebagai saksi di IPT 1965. Sidang hari pertama, menurut dia, dihadiri 200 pengunjung. “Lancar, mengalir, mendebarkan. Saya berbahagia sekali dengan jalannya persidangan IPT,” tulis dia di akun Facebook-nya, Rabu (11/11).
Martin mengaku terkesima setelah melihat Ketua Majelis Hakim IPT 1965, Zak Yacoob, yang memiliki cacat fisik, yakni buta. Zak Yacoob adalah pensiunan hakim Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan yang buta sejak bayi. Dengan keterbatasan fisiknya itu, Yacoob berhasil meraih gelar sarjana hukum di University of Kwa-Zulu Natal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerak-gerik Yacoob selama persidangan tak pelak menarik hati Martin. “Aku percaya hati dia (Yacoob) adalah emas. Dan dia paling jelas melihat kejahatan di negeriku dibandingkan semua yang hadir. Salam bahagia, Kawan,” kata Martin, terharu.
Pengacara Todung Mulya Lubis turut hadir dalam persidangan tersebut sebagai Ketua Tim Jaksa.
Martin menceritakan, saat hakim meninggalkan ruang sidang untuk beristirahat, para hadirin duduk kembali setelah memberi hormat. Ketika itu Martin menjabat tangan Todung. Hal ini dia lakukan setelah mendengar pidato sambutan advokat tersebut.
“Pernyataan Todung sungguh kuat, mengharukan bagi saya sebagai seorang korban,” kata Martin.
“Kami sedang menjalankan fungsi untuk berupaya bersama mencari kebenaran dan keadilan,” kata Martin.
Ia berharap agar para hakim berani dan bijak untuk membawa para korban ke ‘pelabuhan’ tujuan. “Dan berlayar pulang membawa kebenaran dan keadilan di dalam genggaman kita,” ujarnya.