“Spesifikasinya diusulkan oleh TNI Angkatan Udara. Sudah diputuskan jenisnya AW101 Agusta seharga US$55 juta,” kata anggota Komisi I Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11). US$55 juta setara dengan Rp752 miliar lebih.
Namun Hasanuddin keberatan dengan harga AW101 yang ia anggap terlalu mahal. Daripada membeli dari luar negeri, politikus PDIP itu menyarankan TNI membeli helikopter buatan dalam negeri.
“Menurut UU Industri Pertahanan, tidak boleh membeli alutsista (alat utama sistem senjata) dari luar negeri selama di dalam negeri sudah bisa mebuatnya. Selain karena mahal, juga untuk menghormati industri dalam negeri,” kata Hasanuddin.
Helikopter AgustaWestland AW101 buatan Inggris-Italia yang dipesan TNI, menurut Hasanuddin, memang dilengkapi teknologi mutakhir yang sebanding dengan tingkat kenyamanannya bagi VVIP.
“Ini helikopter canggih dengan interior mewah dan space lebar sehingga cukup comfort dipakai oleh VVIP. Tapi harganya itu loh mahal,” ujar Hasanuddin.
Hingga kini ia menyesalkan langkah TNI memilih AW101 sebagai helikopter VVIP.
Hingga 2019, TNI AU menargetkan memiliki enam helikopter VVIP. Pembelian setengah lusin helikopter itu akan dilaksanakan bertahap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TNI tak hanya menggelar pengadaan helikopter VVIP, tapi juga helikopter serbu dan helikopter antikapal selam. Seluruh pembelian alutsista itu masuk Rencana Strategi TNI 2015-2019.