Berdasarkan hasil investigasi dari kotak hitam atau Flight Data Recorder QZ8501, terdapat sejumlah kondisi kerusakan yang diawali empat kali gangguan pada Rudder Travel Limiter Unit (RTLU). (Simak Fokus: INVESTIGASI AIRASIA QZ8501 DIUMUMKAN)
Ketua Subkomite Kecelakaan Udara Kapten Nurcahyo Utomo menjelaskan, gangguan pertama pada RTLU dimulai pukul 06.01 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru pada gangguan RTLU keempat, yakni pada pukul 06.15 WIB, terdapat indikasi yang berbeda dibandingkan dengan tiga gangguan pertama. Seluruhnya tercatat oleh Flight Data Recorder.
Peringatan muncul enam kali sebelum akhirnya sistem autopilot dan auto-thrust pesawat tidak aktif. Sistem kendali pesawat akhirnya berganti dari normal law ke alternate law di mana proteksi tidak aktif.
"Pengendalian secara manual ini yang menyebabkan kondisi pesawat masuk ke dalam upset condition dan stall hingga akhir rekaman FDR," ujar Nurcahyo.
"Hidung pesawat naik ke atas dengan sudut tertinggi 40 derajat. Ini satu kondisi di luar batasan terbang dan masuklah pesawat ke kondisi kehilangan daya angkat atau stall. Kondisi ini sudah di luar kemampuan pilot untuk recover," katanya.
Investigasi kemudian dilakukan pada catatan perawatan pesawat. Dalam 12 bulan terakhir, KNKT menemukan 23 gangguan terkait sistem RTLU di 2014.
"Hal ini diawali oleh retakan solder pada electronic module pada RTLU," ujar Nurcahyo.
KNKT menilai sistem perawatan pesawat tak menggunakan teknologi semestinya, sehingga perbaikan pada pesawat terbang menjadi tidak maksimal.
Puing-puing pesawat QZ8501 jenis Airbus 320 yang membawa 155 penumpang dan tujuh orang kru itu ditemukan dua hari kemudian tersebar di Laut Jawa.