Warga Dusun Kubu, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu sontak menghentikan pekerjaannya. “Waktu itu hujan dan cuaca buruk, perkiraan saya sekitar pukul 06.30 WIB. Pesawat itu terlihat miring dan hilang kendali, lalu berbelok ke arah laut,” kata Efendi di kampung nelayan Dusun Kubu, Minggu (4/1).
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di sekitar pantai yang letaknya tak jauh dari Sungai Buluh Kecil, Rahmat mendadak merasakan getaran hebat dan debuman keras. Perahu miliknya ikut bergetar. Nelayan itu pun bingung.
Usai debuman keras, kabut tebal dari tengah laut tiba-tiba datang menghampiri Rahmat yang berada di bibir pantai. “Itu bukan asap. Saat itu cuaca memang sedang buruk. Saya pun memilih bermalam di Sungai Buluh,” kata dia.
Keesokan harinya, Senin (29/12), Rahmat baru pulang ke rumahnya di Dusun Kubu. Lewat televisi di rumahnya itulah dia mengetahui berita pesawat AirAsia QZ8501 telah kehilangan kontak.
Kabar pun beredar bahwa Rahmat mendengar suara debuman. Lurah Kumai, Said Syamsudin Noor, lantas mengabarkan kesaksian Rahmat kepada aparat militer yang diperbantukan untuk melakukan pencarian QZ8501.
Efendi dan Sudarso pun kemudian turut dimintai kesaksian. Rahmat lantas dibawa ke Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, untuk menunjukkan arah lokasi dari kesaksiannya, Selasa (30/12).
"Suara debuman itu berjarak sekitar dua jam dari perahu saya berada saat itu. Saya ingin membuktikan bahwa kesaksian saya bukan omong kosong. Terbukti, setelah saya tunjukkan lokasi dugaan, sebuah koper dan satu jenazah ditemukan," ujar Rahmat.
Menginjak hari kedelapan pencarian korban AirAsia QZ8501, total 34 jenazah telah ditemukan. Nelayan lokal seperti Rahmat, Efendi, dan Sudarso yang mengetahui baik perairan di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, ikut dikerahkan dalam pencarian. (agk)