Kisah Pewarta Foto yang Mengabadikan Gambar Terduga Teroris

Mohammad Safir Makki, CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2016 16:19 WIB
Kisah Pewarta Foto yang Mengabadikan Gambar Terduga Teroris Terduga pelaku serangan tembakan di Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2015. (Xinhua/Veri Sanovri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pagi itu, Veri, seorang pewarta foto kantor berita asal China, Xinhua, sedang berada di warung kopi di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI). Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan.

“Awalnya tadi saya mengira bunyi dari proyek pekerjaan MRT di kawasan jalan MH Thamrin, tiba-tiba polisi yang ada di kawasan HI berlari sambil teriak ada ledakan bom di Sarinah,” kata dia kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/1).

Mendengar teriakan polisi, Veri langsung menuju lokasi guna memverifikasi kebenaran berita.


“Saya parkir motor di dekat Sarinah dan berlari menuju lokasi ledakan. Dari jauh terlihat kepulan asap, dan ada mayat yang tergeletak di samping pos polisi di seberang Sarinah,” cerita dia.

Veri pun mencoba mendekat. Dia melihat ada tiga mayat yang tergeletak. “Saya memotret sebelum warga mengerumuni korban,” ujarnya. 
Tak lama kemudian, polisi bergerak memasuki pos polisi untuk menyelamatkan anggota mereka yang menjadi korban ledakan tersebut. Setelah itu, polisi meminta kerumunan massa untuk menjauh dari lokasi kejadian.

Sementara Veri menuju pojokan lampu merah tak jauh dari Starbucks. “Di situ ada tempat rindang untuk mengirim gambar ke kantor,” tuturnya.

Mendadak terdengar suara tembakan beberapa kali dari kerumunan. Warga panik menyelamatkan diri.

“Tinggal satu orang berdiri mengacungkan senjata. Secara refleks, saya mengambil kamera sementara laptop saya masih terkoneksi,” cerita Veri.

“Saya memotret tingkah laku orang tersebut di jalanan, kemudian orang tersebut berjalan santai sambil memegang pistol ke trotoar di depan Starbucks. Saya terus memotret gerak-geriknya.”

Terduga pelaku serangan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 14 Januari 2016. (Xinhua/Veri Sanovri)
Kemudian Veri mendengar ledakan dari arah Starbucks. “Saya langsung kabur ke belakang gedung tak jauh dari Starbucks. Saya masuk ke gedung tersebut meskipun satpam melarang. Saya tetap bertahan untuk tetap bisa masuk,” ujar dia.

Ketika melewati lobi utama gedung Djakarta Theater, Veri melihat sosok orang asing tergeletak di depan Starbucks. “Saya memotret beberapa frame.”

Petugas mengingatkan Veri untuk tidak keluar dari pintu utama gedung itu. “Kalau mau keluar, lewat samping Hotel Sari Pan Pacific,” kata Veri, menirukan ucapan petugas.

Veri berpikir untuk tidak terlalu dekat dan lama berada di lokasi kejadian. “Saya menjauh dan mengirimkan foto tersebut dari tempat yang lebih aman.”

Terduga pelaku serangan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 14 Januari 2016. (Xinhua/Veri Sanovri)
(les/les)