Kuasa Hukum Supersemar Bambang Hartono berkata, harta yayasan saat ini hanya berupa uang dan 20 persen saham di Gedung Granadi yang terletak di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Jika ditotal, jumlah harta Supersemar diprediksi hanya mencapai 5 persen dari total denda yang harus dibayar, Rp4,4 triliun.
"Uang yayasan tidak ada. Aset tidak ada apa-apanya, mungkin hanya kurang lebih 5 persen dari jumlah denda," kata Bambang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (20/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya, yayasan dianggap perbuatan melanggar hukum itu karena menerima uang dari 8 bank Pemerintah. Totalnya US$420juta. Bank Pemerintah itu tidak pernah memberikan uang berbentuk dolar. Saya temukan satu bukti bahwa yayasan itu hanya menerima Rp309 miliar dari periode 1979-1998, itu 112 kali (turunnya)," kata Bambang.
"Kita hargai putusan itu, akan tetapi kita minta keadilan. Uang yang kita terima hanya Rp309 miliar dan yang sudah dikeluarkan untuk beasiswa itu Rp706 miliar sampai 2014. Itu untuk bantuan 2.074.000 beasiswa," ujarnya.
"Saya sudah ajukan gugatan ke pengadilan, 14 Januari lalu sidang dan dilanjutkan 4 Februari. Intinya hanya meminta keadilan, kita bukan melawan Pemerintah," katanya.
Supersemar telah diberi waktu hingga 8 hari kerja ke depan untuk membayar denda senilai Rp4,4 triliun kepada PN Jakarta Selatan. Jika hingga batas waktu yang diberikan denda belum dilunasi, maka eksekusi aset dimungkinkan terjadi. Nantinya eksekusi akan dilakukan oleh Juru Sita PN Jakarta Selatan. (pit)