"Apakah selama ini aksi sosial kemasyarakatan kami buruk? Kami punya nilai-nilai kebenaran Tuhan Semesta Alam. Kami bukan teroris juga bukan pengedar narkotik. Namun mengapa kami dimusuhi?" kata Mahful di Jakarta.
Ia pun heran dengan gencarnya pemberitaan belakangan ini terkait aktivitas Gafatar yang dituding menjurus ke arah aliran sesat. Mahful mengatakan, Gafatar resmi membubarkan diri sejak 13 Agustus 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semenjak bubar, anggota Gafatar terpencar. Beberapa ada yang memilih tetap menjalankan program kedaulatan pangan secara sukarela, dan ada juga yang memilih kembali ke pekerjaan lama," kata Mahful.
Kendati demikian, Mahful mengatakan Dewan Pimpinan Daerah Gafatar masih memonitor eks anggotanya agar tidak membuat onar.
"Kami mau pastikan mereka tidak lagi jadi sampah masyarakat serta tidak melakukan penyimpangan hukum maupun adat. Kami juga imbau mereka agar tidak terpancing terlibat dalam konflik," kata Mahful.
Dalam menjalankan programnya dulu, Mahful mengatakan organisasinya tidak pernah mengandalkan dana pemerintah. Alih-alih meminta bantuan pemerintah, para anggota Gafatar mengumpulkan dana sendiri yang disebut koin nusantara.
"Lalu ada pula dana kesejahteraan untuk membantu warga kami yang ekonominya terbatas. Kami tidak melanggar hukum serta tidak berdakwah, melainkan murni hanya bertani," katanya.
"Kami juga selalu terbuka. Sekretariat kami jelas ada papan namanya, dan kami punya legal standing dan akta pendirian. MUI kan ormas juga, mengapa menyatakan ormas lain sesat? Hanya karena kami tidak mainstream, kami dinistakan," kata Mahful. (agk)