Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Tangerang

Suriyanto, CNN Indonesia | Senin, 22/02/2016 08:32 WIB
Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Tangerang Polisi menggelar operasi penangkapan pada sejumlah orang yang diduga terlibat aksi teror di Thamrin. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria berinisial DAP ditangkap petugas Detasemen 88 Antiteror Mabes Polri dan Gegana Satuan Brimob Polda Metro Jaya kemarin. DAP diduga terlibat dalam jaringan teror pelaku bom Thamrin. DAP diamankan di kediamannya di Perumahan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang.

Menurut Kapolres Tangerang Selatan Ajun Komisaris Besar Ayi Supardan, selain diduga terlibat dalam teror Thamrin, DAP juga diduga terlibat dalam peristiwa teror hotel JW Marriot.

"Informasinya yang bersangkutan terkait dengan peristiwa bom JW Marriot, Jakarta dan bom Thamrin," kata Ayi seperti diberitakan Detikcom.


Polres Tangerang Selatan menurutnya diminta untuk membantu pengamanan operasi penyergapan.

Menurut Ayi, tiga bulan sebelum terjadi aksi teror di Thamrin, DAP tidak berada di rumahnya. Ia belum lama kembali ke kediamannya di Cisauk.

Dalam penggeledahan yang dilakukan, petugas menyita barang bukti berupa telepon seluler, laptop, busur panah, 20 anak panah, senapan angin dan dua keping CD berisi dokumentasi pelatihan militer.

Menurut Ketua RT Heri, DAP pernah ditangkap pada tahun 2012 silam. Ia kemudian dipenjara selama lebih dari tahun. "Belum lama bebas (penjara) dan masih wajib lapor," kata Heri. DAP diketahui sehari-hari membuka usaha pengobatan herbal. DAP sehari-hari dikenal berkelakuan baik oleh tetangganya.

Sejak aksi teror di jalan Thamrin beberapa waktu lalu, sejumlah penyergapan dilakuan petugas. Sudah puluhan orang ditangkap. Mereka yang ditangkap ini bahkan disebut bakal melakukan aksi teror susulan pada sejumlah tempat.

Polisi menuding dalang di balik aksi teror tersebut adalah Bahrun Naim Anggih Tamtomo. Pria asal Solo ini ditengari menjadi perantara ISIS di Suriah dengan sel organisasi teror itu di Jakarta. Bahrun pernah dipenjara atas kepemilikan amunisi pada 2010 lalu. (sur/sur)