Pengelola TIM Larang Festival Lawan Propaganda Orde Baru

Abraham Utama, CNN Indonesia | Sabtu, 27/02/2016 15:50 WIB
Pengelola TIM Larang Festival Lawan Propaganda Orde Baru Pengelola Taman Ismail Marzuki melarang festival yang hendak melawan hegemoni Orde Baru. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) melarang Festival Belok Kiri. Festival yang digelar untuk melawan propaganda Orde Baru tersebut rencananya akan dimulai Sabtu (27/2) siang.

Pelarangan tersebut diutarakan Sekretaris Jenderal Festival Belok Kiri Indraswari Agnes, kepada CNN Indonesia, melalui sambungan telepon. Ia menuturkan, pelarangan itu berbanding terbalik dengan kebijakan PKJ pada 19 Februari lalu.

"PKJ telah memberikan surat izin pelaksanaan acara kepada kami. Mereka lalu meminta kami mengurus izin lebih lanjut ke polsek," ucap Agnes.


Agnes mengklaim, panitia telah menyerahkan surat pemberitahuan rencana kegiatan kepada Kepolisian Sektor Menteng. Ia berkata, kepolisian lantas memberikan cap resmi serta menandatangi surat tersebut.

Setelahnya, menurut Agnes, panitia menyampaikan surat itu kepada PKJ. Senin (22/2), pengelola TIM yang secara struktural berada di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu kemudian memasang banner promosi festival di area TIM.

Namun, tidak sampai sehari PKJ telah menurunkan banner itu. Mereka juga memanggil panitia dan menyatakan surat bercap Polsek Menteng tak cukup untuk menjadi legitimasi pengadaan festival.

Agnes memaparkan, pada pertemuan itu otoritas PKJ berkata, sebelum festival digelar, Polsek Menteng harus mengeluarkan surat izin terlebih dulu.

Akan tetapi, kata Agnes, Polsek enggan menerbitkan surat izin dan merekomendasikan panitia untuk mengurus perizinan ke Polres Jakarta Pusat. Belakangan, otoritas polres justru meminta panitia mengajukan permohonan ke Polda Metro Jaya.
Agnes mengatakan, pihak polda memberitahu panitia perihal surat yang diajukan sejumlah organisasi masyarakat. Lembaga-lembaga itu berencana mengerahkan lebih dari 500 orang untuk membubarkan Festival Belok Kiri.

Jumat (26/2), menurut Agnes, PKJ melayangkan surat kepada panitia yang intinya tidak memberikan izin pelaksanaan Festival Belok Kiri.
Berdasarkan pantauan tagar #BelokKiriFest di lini masa Twitter, sejumlah orang saat ini sedang berunjuk rasa di depan TIM. Mereka membawa sejumlah spanduk yang menolak komunisme dan kegiatan yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia.

Lawan Orde Baru

Ketua Penyelenggara Festival Belok Kiri, Dolorosa Sinaga, mengatakan, kegiatan yang telah dipersiapkan selama satu tahun itu ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang propaganda yang dilancarkan Orde Baru.

Mantan Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta itu berkata, pemerintah dan sejumlah kelompok masyarakat masih terus mereproduksi propaganda Orde Baru.

"Propaganda itu berlangsung dalam berbagai bentuk, seperti penindasan dan kebencian. Ini perlu dibongkar agar generasi muda dapat tumbuh sehat secara politik dan budaya," ujarnya.

Festival Belok Kiri menghadirkan diskusi, pidato ilmiah, pemutaran film dokumenter dan workshop mengenai beberapa tema seperti kebudayaan emansipatoris serta gerakan buruh dan perempuan.

Beberapa tokoh yang akan dijadwalkan akan berbicara pada forum-forum itu adalah Ketua Dewan Pembina YLBHI Nursyahbani Katjasungkana, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, Komisioner Komnas HAM Dianto Bachriadi, dan Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodharwardani.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Hilmar Farid juga dijadwalkan memberikan pidato kunci tentang sejarah gerakan kiri di Indonesia, Minggu (28/2) besok. (abm/utd)