"Sudah ditempatkan di Malang," kata Agus di Lapangan Monas, Jakarta, Selasa (1/3).
Agus mengatakan empat pesawat Super Tucano yang diterima Indonesia dalam kondisi lengkap sesuai pesanan. Menurut Agus, Super Tucano itu tak akan dilengkapi radar cuaca karena merupakan jenis pesawat latih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait jatuhnya pesawat Super Tucano beberapa waktu lalu, Agus mengatakan TNI AU masih melakukan investigasi. Investigasi dilakukan tanpa melibatkan produsen pesawat asal Brasil tersebut.
Empat pesawat yang dikendarai pilot Angkatan Udara Brasil itu mendarat satu per satu setelah lepas landas dari Brasil pada 15 Februari.
"Empat pesawat datang beruntun sejak tahun 2012," kata Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Abdulrachman Saleh Mayor Sus Hamdi Londong Allo.
Empat pesawat tersebut melengkapi 11 pesawat lain yang telah tiba lebih dulu. Namun atu di antara 11 pesawat tersebut mengalami kecelakaan di Malang dan menewaskan sang pilot.
Pesawat Super Tucano datang sesuai kontrak antara pemerintah RI dengan perusahaan Brasil, Embraer, pada tahun 2010 dan 2012. Super Tucano ialah pesawat tempur ringan bermesin Turboprop yang memiliki kemampuan menempuh operasi jarak jauh.
Pesawat ini mampu melesat hingga 590 kilometer per jam. Super Tucano juga menggunakan sistem avionik MIL-STD-1553 yang digunakan jet tempur AS modern lain seperti General Dynamics F-16 Fighting Falcon, McDonnell Douglas F/A-18 Hornet, Boeing AH-64 Apache, Lockheed P-3C Orion, McDonnell Douglas F-15 Eagle, dan Norhrop F-20 Tigershark. (agk)