Menhan: Jet Tempur T-50i Jatuh sebab Kesalahan Teknis Manusia

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Jumat, 12/02/2016 16:41 WIB
Menhan: Jet Tempur T-50i Jatuh sebab Kesalahan Teknis Manusia Jet tempur ringan T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan yang jatuh di Yogya, sesaat sebelum terbang. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pesawat T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan milik TNI Angkatan Udara jatuh di Yogya pada 20 Desember 2015 karena faktor kesalahan manusia.

"Itu masalah kesalahan teknis orang (human error). Saya diberitahu KSAU langsung," kata Ryamizard di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (12/2).

Pesawat T-50i Golden Eagle jatuh di pinggiran kesatrian Akademi Angkatan Udara Yogyakarta akhir tahun lalu. Kecelakaan itu terjadi saat gelaran Yogyakarta Air Show. Sebelum jatuh, pesawat T-50 tersebut sempat bermanuver dan terbang rendah.


Insiden itu menewaskan seorang pilot, yakni Komandan Skadron Udara 15 Letnan Kolonel Marda Sarjono, dan Kapten Dwi Cahyadi selaku radar interceptor officer.
Marda selama ini dianggap sebagai salah satu pilot terbaik TNI AU. Dia juga satu dari enam penerbang TNI AU yang dikirim ke Korea Selatan untuk secara khusus mempelajari teknik  pengoperasian T-50.

Marda pula yang membawa jet tempur itu dari Korea Selatan ke Indonesia untuk memperkuat armada udara TNI.

Ryamizard menduga, ia dalam kondisi tidak fit saat kecelakaan terjadi. “Saya tidak tahu apa dia lelah," ujarnya.
Jet tempur ringan Golden Eagle T-50i yang jatuh itu baru dibeli Indonesia pada tahun 2013. Pesawat hasil pengembangan Korsel bersama perusahaan Amerika Serikat Lockheed Martin itu hadir di Indonesia untuk menggantikan armada Hawk MK-53.

Menanggapi kecelakaan yang belakangan terjadi pada pesawat-pesawat baru TNI, Ryamizard mengatakan anggaran pemeliharaan pesawat baru sesungguhnya tidak banyak, berbeda dengan anggaran pemeliharaan untuk pesawat berusia uzur.

Menhan mengklaim selama ini pihaknya telah mengaudit pesawat-pesawat baru tersebut. “Saya juga jalan ke lapangan terbang, industri, depo. Kondisinya bagus. Makanya kenapa kok (pesawat) baru, celaka," ujar Ryamizard.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) udara yang jatuh akhir-akhir ini memang justru tergolong anyar.

"(Pesawat TNI) yang jatuh malah yang baru-baru. Tapi enggak usah berburuk sangka. Amerika punya 15 alutsista udara baru, crash juga," ujar Luhut di Kantor Kemenkopolhukam.

Oleh sebab itu, kata mantan Komandan Grup 3 Kopassus itu, pemerintah perlu meneliti penyebab banyaknya pesawat baru yang celaka.
(agk)