"Narkoba itu dikonsumsi lebih dari 5,9 juta orang dan setiap hari 30 hingga 50 orang meninggal. Jadi kita itu tak berbicara agama atau jabatan atau lain sebagainya karena semuanya kena," kata Luhut saat menjadi memberikan pengarahan di Pekanbaru, Rabu (2/3).
Luhut menjelaskan, hampir semua orang berpotensi menjadi korban dari peredaran narkoba itu, hampir semua di lini pasti ada yang mengkonsumsi narkoba. Oleh sebab itulah dia meminta agar semua pihak di daerah memperhatikan peredaran barang haram tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dipegang Luhut, pada 2014 hingga 2015 kasus narkoba di Indonesia mengalami kenaikan hingga 13 persen. Penambahan yang dianggap sangat tinggi tersebut membuat Luhut menekankan adanya kewaspadaan dari masyarskat.
Sebelumnya Luhut menjelaskan, ada tiga fokus yang akan dia sampaikan terkait deradikalisme yang mau dia tekankan pada masyarakat, yaitu terorisme, narkoba, dan dana desa.
"Dana desa ini penting karena ada tiga instansi yang bermain di situ, yaitu TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah," kata Luhut.
Pria yang pernah bekecimpung di Partai Golongan Karya tersebut mengatakan sinergitas antara tiga instansi itu perlu dilakukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan kesejahteraan yang bagus. Jika kesejahteraan itu bisa diwujudkan maka tindak terorisme bisa berkurang.
Menurut Luhut, kunjungannya ke beberapa daerah tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Indonesia Joko Widodo. Menurut dia arahan Jokowi tersebut harus bisa disampaikan ke bawah.
Untuk masalah terorisme, Luhut menambahkan agar Pemda tidak kecolongan. Tak hanya itu, Pemda harus memgingatkan kepala desa selaku ujung pemerintahan paling bawah untuk mengingatkan soal itu.
Sementara masalah narkoba, Luhut mengaku bahwa wilayah Riau dan sekitarnya memang rawan karena dekat dengan bibir pantai yang menjadi salah satu jalur penyelundupan narkoba. (pit)